Minggu, 17 Agustus 2014

Dari Batavia Hingga Emma Haven

Pada suasana hari kemerdekaan ini, tidak ada salahnya kita mengenang bagian sejarah tentang nama-nama kota di Indonesia, persisnya di zaman Hindia Belanda.

Pada sekitar tahun 1603, Cornelis de Houtman sebagai pimpinan pasukan Perusahaan Dagang Belanda VOC (Verenigde Oast Indische Company) merebut Jayakarta dari penguasaan Pangeran Jayakarta. Pangeran Jayakarta sendiri adalah penguasa dan pangeran dari Kerajaan Banten. Belanda yang semula hanya punya kantor dagang di Pulau Onrust di Kepulauan Seribu memindahkan kantor dagangnya ke Jayakarta. Nama Jayakarta diubah menjadi Neuw Batavia namun selanjutnya hanya disebut Batavia. Sebenarnya nama Batavia diambil dari nama sebuah wilayah di Negeri Belanda.

Perluasan wilayah Batavia menimbulkan kegusaran Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Dua kali Sultan Agung mengirim pasukan untuk merebut Batavia, namun tak berhasil. Bahkan VOC berhasil memperluas wilayahnya sampai ke Jatinegara. Dan Jatinegara diberi nama baru, Mester Cornelis.

Pergolakan dan perebutan kekuasaan di Mataram membuat Belanda memiliki kesempatan untuk memperluas lagi wilayahnya. Salah satu kota yang (pernah) dijadikan pusat pemerintahan VOC adalah Bogor. Dan nama kotanyapun diubah menjadi Buitenzorg.

Karena terjadi banyak korupsi dalam usaha VOC, perusahaan tersebut hampir bangkrut. Maka “Tuan-Tuan Tujuh Belas” yang berkuasa atas VOC menurut Peraturan Perusahaan, menyerahkan sepenuhnya properti VOC termasuk tanah-tanah yang dikuasainya di Nusantara kepada Pemerintah Belanda. Jadilah nama Hindia Belanda sebagai bagian wilayah (jajahan) Belanda dengan pimpinan seorang Gubernur Jenderal.

Selanjutnya perubahan nama kota-kota di Hindia Belanda terjadi di wilayah yang sekarang disebut Sumatera Barat. Semula atas kemurahan hati seorang datuk  di Minangkabau, VOC dibolehkan membuat kantor dagang di Pulau Cingkuak laiknya yang terjadi di Batavia pada Pulau Onrust.
Tiga orang pembaharu Islam kembali dari Mekah, yaitu Tuanku Sumanik, Tuanku Piobang dan Tuanku Imam Bonjol (Peto Syarif). Mereka ingin mengubah kebiasaan orang Minang waktu itu yang walaupun beragama Islam, tapi suka berjudi, menyabung ayam dan masih mempercayaai kebiasaan-kebiasaan tradisional. Hal itu ditentang olah Kerajaan Minangkabau. Terjadilah perang antara pasukan pembaharu Islam itu dengan Kerajaan. Dan disini, Belanda langsung mengambil peran sebagai yang dilakukannya dalam menguasai Jawa bahkan Nusantara. Belanda membantu Kerajaan namun dengan janji Belanda punya kekuasaan atas wilayah Minangkabau selanjutnya. Dan Belanda dapat pijakan dengan diberikannya wilayah kota Padang (sekarang) sebagai wilayah Hindia Belanda awal di daratan pulau Sumatera.

Oleh karena pasukan pembaharu Islam itun berpakaian gamis serba putih sebagaimana seorang pader dalam agama Kristen, belanda menyebut mereka sebagai pasukan Paderij. Jadilah peperangan itu sebagai perang antara Belanda dengan pasukan Paderij, maka disebut sebagai Perang Paderi. Namun karena pimpinannya adalah Imam di Bonjol (Tuanku Imam Bonjol) maka perang itu juga disebut sebagai Perang Bonjol. Itu terjadi pada tahun 1821. Selama empat tahun tak banyak kemajuan tentara Belanda, karena pasukan Paderi sangat militan, apalagi mereka menguasai medan.

Tiba-tiba pada tahun 1825 di Jawa terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro atas Kerajaan Mataram. Walau dengan latar belakang berbeda, sebenarnya Diponegoro juga sedang melakukan pembaharuan Islam di Mataram persis seperti Tuanku Imam Bonjol di Minangkabau. Sebenarnya Tuanku Sumanik, Tuanku Piobang dan Peto Syarif (Imam Bonjol) di Minangkabau adalah seperguruan di Mekah dengan Pangeran Diponegoro dan Sentot Alibasyah (Wakil Panglima Diponegoro). Dan Mataram minta bantuan Belanda untuk memadamkan pemberontakan. Alhasil jadilah Perang Diponegoro. Saking hebatnya perang itu, Belanda menyebut itu Perang Jawa, menyedot banyak biaya perang dan pasukan yang diperlukan lebih banyak pula. Karena Batavia ada di Jawa sebagai pusat pemerintah Hindia Belanda, maka mau tak mau Belanda lebih mendahulukan Perang melawan Diponegoro dibanding melawan Imam Bonjol. Maka Belanda menarik sebagian besar tentaranya dari Sumatera, sehingga Perang Paderi seakan “terhenti”, dan pasukan  Imam Bonjol tetap menguasai bagian terbesar Minangkabau. Akhirnya perang memang dimenangkan Belanda, dengan kelicikannya Belanda dapat menawan Diponegoro pada tahun 1830, dan dibuang ke Manado bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya

Sehabis perang Diponegoro, Belanda langsung memulai lagi perang dengan pasukan Paderi pada tahun 1830. Dan untuk menaklukkan Imam Bonjol Belanda memakai taktik baru, bisa disebut “milestone”.  Kota-kota di Minangkabau direbut satu persatu dan setiap selesai merebut satu kota besar, dibuatlah benteng agar tak bisa direbut kembali oleh pasukan Paderi. Sistim perang seperti itu memang memakan waktu lama, namun sangat efektif untuk wilayah yang sulit. Pernah Belanda merekrut Sentot Alibasyah (ex wakil Panglima Diponegoro) untuk membantu menaklukkan Imam Bonjol, namun tentu saja Sentot hanya pura-pura “menyerang” temannya itu. Akhirnya Sentot bisa melarikan pasukannya ke Aceh selatan sebelum jatuhnya Bonjol. Dan jangan heran kalau bertemu ada orang Aceh yang menyebut nama kakeknya misalnya “Tukimin”, Jawa banget. Memang ternyata ia keturunan tentara Sentot Alibasyah tersebut.

Direbutlah kota BukikTinggi (lidah Minang untuk nama Bukittinggi) dan dibuat benteng yang diberi nama pimpinan militer Belandanya (Jenderal de Kock), maka nama kota Bukittinggi diganti menjadi Fort de Kock. Seorang Mayor Belanda bernama Van der Cappelen berhasil merebut kota Batusangkar dan langsung mendirikan benteng yang diberi namanya pula. Jadilah nama Batusangkar diubah menjadi Fort Van der Cappelen. Diperlukan waktu tujuh tahun oleh Belanda untuk merebut benteng pasukan Paderi di Bonjol. Dengan kelicikannya yang khas, Belanda akhirnya dapat menangkap Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1837 dan dibuang ke Makassar bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya.

Nah tibalah kita pada nama Emma Haven. Setelah Belanda menguasai Minangkabau secara penuh, wilayah itu diberi nama Sumatera Westkust. Pelabuhan kota Padang, Taluak Bayua (lidah Minang untuk Teluk Bayur) dibuat dibelakang pulau Cingkuak, dengan panorama yang indah, Gunung Padang. Oleh karena indahnya pelabuhan itu, Belanda sendiri terkesan dan memberinya nama Emma Haven, dimana Emma adalah nama kecil salah seorang ratu Belanda. Jadi tak salah nyanyian biduan Erni Johan menyebut dalam lagunya: “Selamat tinggal Teluk Bayur permai……..dst.
Catatan: fort artinya benteng; haven artinya pelabuhan

Salam hari kemerdekaan Indonesia.

Senin, 23 Desember 2013

Pemakaian Kata "momentum" Yang Salah Kaprah

OPINI | 23 December 2013 | 11:11 Dibaca: 10   Komentar: 1   0
Sebuah harian kemarin membuat headline “Momentum Hanura Menangi Pemilu”. Malamnya saat ada diskusi di TV One tentang ditahannya Ratu Atut Choisiah dalam perkara korupsi, seorang anggota DPR yang sangat senior mengeluarkan ucapan yang juga memakai kata momentum: “Semoga dengan kejadian ini Rano Karno dan Ratu Atut dapat menjadikan masalah ini sebagai momentum untuk bertekad tidak lagi berperilaku merugikan (negara) seperti ini” (Note: Kalimatnya tak persis seperti itu - Penulis).
Sejak beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar ucapan momentum baik oleh praktisi ataupun pejabat. Dari awal saya sudah agak miris mendengar pejabat seperti itu tak mengerti bahasa Inggeris tapi memaksakan diri seakan mengerti apa yang diucapkannya. Dan lama kelamaan, publik ikut-ikutan memakai kata “momentum” dengan cara salah kaprah seperti itu, seakan mengerti pula. Dan karena kemarin kata itu ditulis sebagai headline sebuah harian yang cukup besar, sehingga saya merasa tak nyaman bila tak memberi tahu arti kata itu dalam kompasiana ini. Karena bagaimanapun, orang-orang asing, khususnya yang berbahasa ibunya bahasa Inggeris akan mentertawakan (bangsa) kita atas kekeliruan fatal pemakaian kata “momentum”.
Baiklah saya jelaskan kenapa saya katakan pemakaian kata itu keliru. Dalam bahasa Inggeris ada kata “moment” yang mempunyai dua arti yang sangat jauh berbeda. Arti moment yang diketahui secara umum adalah yang menyangkut waktu, saat, waktu singkat, sejenak dan sejenisnya. Namun dalam ilmu teknik, arti moment adalah suatu gaya yang berkerja berjarak dari sumbu putar, bisa disebut sebagai gaya puntir atau gaya putar. Nah kata “momentum” itu adalah sebutan untuk percepatan atau kecepatan suatu gaya memuntir, biasanya pada gerak memutar pada mesin/motor atau benda bergerak berputar lainnya.
Jadi kata”momentum” itu dalam bahasa Inggeris hanya ada dalam bidang ilmu teknik, khususnya dalam bidang fisika, mekanika atau dinamika. Bahkan dalam bidang teknik lain seperti teknik sipil, arsitektur, geologi sekalipun tak ada kata momentum, walaupun bidang itu juga mengenal kata moment dalam arti gaya puntir.
Nah kenapa pejabat-pejabat bahkan para analis ekonomi dan sosial seenaknya memakai kata momentum? Pernahkah mereka belajar atau membaca dalam kamus bahasa Inggeris yang mengatakan ada hubungan kata momentum dengan “moment” dalam arti yang berhubungan dengan waktu?
Semoga kita semua berusaha memakai kata-kata bahasa asing dengan cara yang benar.  Seperti pernah saya uraikan dalam tulisan-tulisan terdahulu, misalnya pemakaian kata komitmen (dari bhs Inggeris “commitment”) saat ini sudah sangat “memalukan” karena tak tepatnya dalam berbahasa. Semoga bermanfaat.

Selasa, 30 Oktober 2012

Minangkabau, Cara Mudah Mempelajari Bahasa Minang

Kata Pengantar

Berdasarkan temuan penulis, kebanyakan anak-anak Minang yang lahir atau besar diluar daerahnya (rantau) tidak bisa berbahasa Minang dan tidak mengerti bahasa Minang.

Mereka dipanggil "orang Padang" namun tidak bisa ber"bahasa Padang". Mereka juga tidak mengerti dasar-dasar budaya dan adat Minang sehingga tidak punya kebanggaan sebagai orang Minang. Inti utama dari tulisan ini adalah konservasi, mencatat dasar-dasar bahasa Minangkabau, untuk membantu generasi Minang khususnya yang kebetulan terlahir dan dibesarkan diluar daerah Minang, disamping mungkin juga bermanfaat untuk yang menetap di daerah Minang, baik yang asli maupun pendatang.

Tidaklah memadai menulis perihal Minangkabau tanpa menggambarkan wilayah adat dan asal muasalnya. Namun tulisan ini jauh dari keinginan untuk menuliskan sejarah, jadi sejarah Minangkabau yang ditulis di sini hanyalah berupa uraian singkat sekedar gambaran garis besarnya. Ini merupakan cuplikan dari berbagai sumber tentang "Legenda dan Tambo Minang" diimbuh dengan analisa dan komentar lepas dan sederhana dari penulis, tanpa mencantumkan tahun kejadian, agar tidak terkesan sebagai buku sejarah. Yang penting adalah alur dan prosanya dapat ditangkap pembaca.

Selanjutnya ada bagian-bagian yang masing-masing membicarakan Hubungan Kekerabatan Dalam Masyarakat Minang dan Pemahaman Bahasa Minang. Penulis yakin dengan mengetahui bagian budaya yang diungkapkan di sini, tiap individu orang Minang akan bertambah bangga terlahir sebagai orang Minang sehingga memelihara tradisi suku dan kekrabatannya, bahasa, pepatah-pepatahnya yang umumnya berisi petuah sebagai pendidikan karakter.

Penulis meyakini, tulisan ini tak akan pernah final, selalu harus dikoreksi setiap diperlukan, khusunya untuk Daftar Kata dalam Pasal 3.3.2 dan Kumpulan Idiom dalam Pasal 3.4. Sebagai nostalgia, penulis menambahkan Pasal 3.5 yang berisi syair dan nyanyian legendaris Minang.

Akhirnya penulis berharap apabila ada koreksi yang membangun dari para pembaca, agar disampaikan ke alamat email penulis: zainal.ilyas@yahoo.com . Bukanlah maksud penulis untuk menyombongkan diri sebagai orang yang tahu segalanya tentang Minang. Bukankah "tak ada gading yang tak retak"?





Wassalam.





Bagian I






PENDAHULUAN
LEGENDA DAN TAMBO MINANGKABAU
Bahan bacaan dan sumber: Tambo Minangkabau, Tatanegara Madjapahit (Prof.M.Yamin), syair indang Pariaman (lisan), Hulubalang Radja (AM Dt. Madjoindo). Pemberian komentar oleh penulis.
Petikan Legenda
Tibo di langik taburito, tibo di bumi jadi kaba. Sampai ke langit menjadi berita, tiba di bumi menjadi cerita. Ya, begitulah perumpamaan yang dipakai dalam menggambarkan suatu riwayat dalam budaya Minang.

Tersebutlah kisah tentang tiga orang pangeran dari Maharaja Iskandar Zulkarnain yang diutus untuk mencari tanah baru di bagian tenggara Samudera Hindia dalam rangka memperluas wilayah kekuasaannya. Kepada ketiganya sang bapak berpesan agar di tanah baru nanti mereka mendirikan kerajaan taklukan Maharaja. Untuk pertanda, sang bapak membekali mereka dengan sebuah mahkota emas (mangkuto ameh) yang memakai lambang kemaharajaan. Sebuah kapal mengangkut ketiga pangeran yang ditemani oleh para pengawal yang berupa (bernama?) hewan: Kuciang Siam merupakan (bernama?) kucing, Harimau Campo merupakan (bernama?) harimau, Cati Bilang Pandai merupakan (bernama?) tupai, Kambiang Hutan merupakan (bernama?) kambing, dan Anjiang Mualim berupa (bernama?) anjing. Ada cerita bahwa para pengawal dan ajudan tersebut benar-benar hewan, sehingga penulis memberi sisipan "merupakan (bernama?) dalam mengidentifikasikan para pengawal tersebut.

Singkat cerita, dalam pelayaran di Samudera Hindia tersebut terjadi pertengkaran antara ketiga pangeran dalam menentukan siapa yang berhak memakai mahkota. Akibat pertengkaran itu mahkota emas terjatuh kedalam laut. Semua pengawal disuruh menyelam untuk mengambilnya, namun ternyata mahkota digulung oleh "ula bidai" (ular naga?) sehingga tak ada yang berani mengambilnya. Ajudan si bungsu dari para pangeranlah yaitu (tupai) Cati Bilang Pandai yang mendapat akal. Dengan kecerdikannya, ula bidai mau melepaskan mahkota itu dan ditangkap oleh Cati Bilang Pandai. Oleh karena ajudan pangeran yang bungsu yang punya kemampuan mendapatkan kembali mahkota, maka kedua kakaknya mengalah.

Yang satu bernama Maharaja Alif berlayar dengan kapal lain ke arah barat, mendarat di negeri Rum dan menjadi raja disana. yang ke dua bernama Maharaja Dipang berlayar ke timur, mendarat di negeri Cina dan menjadi raja di Cina dan Jepang. Si bungsu yang membawa mahkota bernama Maharaja Diraja.

Selanjutnya menurut legenda itu, setelah berlayar berhari-hari, kelihatanlah daratan. Dan itu adalah puncak gunung Marapi yang masih sebesar telur ayam. Akhirnya mendaratlah kapal yang membawa cikal bakal orang Minang di kaki gunung Marapi. Tempat tinggal dibuat dengan sebutan taratak, menjadi kampung dan nagari. Rakyat disuruh manaruko, membuka lahan dari hutan yang masih lebat.

Petikan Tambo
Tambo Minangkabau tidaklah seluruhnya bersumber pada catatan tertulis sebagai layaknya sejarah. Sebagian berdasarkan peninggalan tertulis, misalnya batu bersurat, sebagian berdasarkan bukti sejarah tanpa tulisan, yang ditelaah dan ditafsirkan oleh penulis tambo, dan ada juga yang masih berupa legenda yang secara "axioma" tetap difahami dan dimengerti oleh orang Minang.

Tersebutlah keturunan Maharaja dan para pengawal yang mendarat di kaki gunung Marapi, beranak-pinak dan meluaskan wilayah dengan "manaruko" yaitu membuka lahan hutan untuk peladangan, persawahan dan tempat pemukiman sehingga terbentuklah beberapa wilayah pemukiman dan masyarakatnya hidup aman tenteram dan sejahtera.

Sampai suatu waktu datang seorang penguasa baru dari India. Untuk tidak menimbulkan bencana, penguasa baru di"ambil" sebagai menantu oleh raja setempat, istilahnya penguasa baru itu dijadikan sebagai "urang sumando". Dengan mengangkat urang sumando menjadi penguasa, rakyat tidak merasa terjajah, apalagi penguasa baru itu melakukan berbagai kegiatan untuk memakmurkan rakyat dan juga mempertahankan negeri dari segala serangan yang datang dari luar.

Penguasa baru ini yang dijuluki "Sri Maharaja Diraja", sesungguhnya tidaklah punya kekuasaan memerintah layaknya raja di negeri lain. Ia hanya dijadikan lambang. Pemerintahan tetap dijalankan oleh mertuanya yang keturunan Maharaja Diraja yang asli. Namun keturunan dari Sri Maharaja Diraja justru menjadi penerus pemegang tahta. Ini dimungkinkan karena telah diberlakukannya aturan adat "matrilineal" - aturan garis ibu - di kerajaan yang pada saat itu disebut Pagaruyung.

Keturunan yang dimaksud adalah Sutan Paduko Basa yang ketika diangkat menjadi raja diberi gelar Datuk Ketemanggungan.

Setelah Sri Maharaja Diraja meninggal, ibu Sutan Paduko Basa menikah lagi dan dari suaminya ini, mendapat anak yang salah satunya bernama Sutan Balun yang setelah dewasa bergelar Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Karena Datuk Ketemanggungan memiliki tiga saudara seayah seibu dan ada pula saudara seibu lain ayah termasuk Datuk Perpatih Nan Sebatang, maka dibuatlah kesepakatan antara kedua datuk untuk membagi kekuasaan. Datuk Ketemanggungan diangkat sebagai raja, negeri Pagaruyung dinamakan Kerajaan Minangkabau berkedudukan di Pariangan Padang Panjang. Semua saudara seayah diangkat sebagai "Penghulu", maka jadilah tiga wilayah Penghulu: Sungai Tarab, Lima Kaum dan Padang Panjang. Ketiga saudara seibu diberi wilayah kekuasaan sebagai wakil raja dan Penghulu Wilayah Adat. Maka terbentuk pula tiga wilayah adat yang disebut Luhak dengan sebutan "Luhak Nan Tigo", yakni: Luhak Agam, Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Koto.

Adat masing-masing wilayah juga ditetapkan berdasarkan laras, dan ada tiga laras yaitu: Koto Piliang sebagai adat keturunan Datuk Ketemanggungan di Luhak Tanah Datar, Bodi Chaniago sebagai adat keturunan Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Laras Panjang sebagai adat keturunan Mambang Sutan yang bergelar Datuk Suri Maharajo Nan Bamego-mego.

Perkembangan wilayah selanjutnya disebut sebagai rantau, namun adat Minangkabau tetap dipakai baik di wilayah luhak nan tigo maupun di wilayah rantau.

Pembanding
Tersebut kisah dalam sejarah Jawa, Raja Ketanegara dari Singosari mengirim tentara untuk menaklukkan wilayah Melayu. Yang dimaksud wilayah Melayu waktu itu adalah semua kerajaan Palembang, Jambi, Tebo, Dharmasraya, Kandis dan Minangkabau. Pasukan itu dinamakan Pamalayu, dipimpin seorang panglima bernama Mahisa (Kebo) Anabrang, menaklukkan Melayu Jambi, menyusuri Sungai Batanghari ke hulu, sampai ke Ibukota Dharmasraya.

Setelah beberapa tahun di Wilayah Melayu, tentara Pamalayu pulang ke Jawa dengan membawa dua orang puteri Melayu Minang yang masing masing bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Dalam Tambo Minang diceritakan bahwa Mahisa Anabrang justru telah di"ambil" menantu oleh Kerajaan Minangkabau yaitu dikawinkan dengan Dara Jingga, sedang Dara Petak ikut ke Jawa justru menemani kakak sepupunya (Dara Jingga) yang sedang hamil. Mengambil sebagai urang sumando ternyata adalah salah satu cara diplomasi Minangkabau, sehingga setelah sampai di Dharmasraya, Pamalayu tidak lagi berusaha memasuki wilayah Minangkabau.

Alur cerita dilanjutkan menurut versi Sejarah Jawa (Pararaton), khususnya mengenai putri Minang yang ikut Pamalayu pulang ke Jawa.

Ternyata sesampainya di Jawa, Kerajaan Singosari telah runtuh dihancurkan kerajaan Kediri dengan bantuan pasukan Cina kiriman Raja Kubilai Khan untuk balas dendamnya kepada Kertanegara. Namun Kerajaan Kediri juga telah dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit yang baru berdiri. Maka Pamalayu mengakui raja yang baru, Raden Wijaya, menantu Kertanegara, sebagai raja Majapahit pertama dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana disingkat Kertarajasa.

Kedua putri diserahkan kepada Kertarajasa. Yang tua bernama Dara Jingga dikawinkan dengan pembesar istana, yang muda bernama Dara Petak menjadi istri ketiga Raja Majapahit, Kertarajasa, dan diberi nama keraton: Dyah Indreswari.

Dara Petak akhirnya menjadi permaisuri dengan gelar Sri Tinuheng Pura sehingga puteranya Kala Gemet belakang hari menjadi raja kedua Majapahit, dengan gelar Jayanegara, menggantikan ayahnya Kertarajasa.

Setelah Jayanegara mangkat (terbunuh), kakak sepupunya (anak Dara Jingga) yang bernama Adityawarman tidak mungkin diangkat menjadi raja menggantikan adiknya karena ada perselisihan dengan saudara lain ibu. Atas jasanya membantu Gajah Mada dalam beberapa peperangan ia yang semula diangkat jadi semacam Duta ke negara lain, akhirnya diangkat sebagai Rajamuda (Raja taklukan Majapahit) di Dharmasraya, daerah asal ibunya. Dharmasraya adalah kerajaan yang berlokasi di bagian tenggara dari Propinsi Sumatera Barat sekarang, dekat perbatasan dengan Jambi.

Untuk menghilangkan pengaruh Majapahit, Adityawarman justru memindahkan pusat kekuasaannya ke arah hulu sungai Batanghari mendekati wilayah Minangkabau. Kerajaan Minangkabau justru gembira dengan berkuasanya Adityawarman di Dharmasraya, karena Minangkabau maupun Dharmasraya adalah Kerajaan Melayu yang sama-sama memiliki adat Minang dan seketurunan menurut garis ibu.

Secara adat Minang, Adityawarman adalah orang Minang walaupun menurut adat Jawa ia adalah orang Jawa. Maka dewan mufakat kerajaan meminta Adityawarman bahkan menjauh dari wilayah Melayu Jambi. Minangkabau berubah nama kembali menjadi Pagaruyung dan menobatkan Adityawarman sebagtai Raja Pagaruyung, memindahkan ibukotanya dari Dharmasraya ke Suruaso/Pagarurung.

Agama Islam masuk ke Minangkabau dalam masa-masa akhir Minangkabau pertama, berlanjut pada masa Kerajaan Pagaruyung kedua (dibawah Adityawarman) dan akhirnya resmi menjadi agama Negara. Oleh karena adat tetap dipertahankan sejauh tidak bertentangan dengan agama, maka lahirlah pepatah: “Adat bersandi sarak (agama), sarak besandi kitabullah”.

Agama Islam awalnya disebarkan melalui Riau menyusuri sungai Siak dan Inderagiri, sehingga orang Minang menamakan seorang ahli agama/ulama dengan sebutan “orang Siak”.
Karena kebijakan manaruko yang dianjurkan raja-raja Minagkabau, terjadilah perpindahan penduduk yang memunculkan wilayah-wilayah rantau. Arus gerakan dakwah dari arah Riau yang telah menjadi wilayah rantau, juga memicu masyarakat Minangkabau untuk menaruko lebih jauh bahkan keseberang Selat Melaka.

Wilayah Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia) yang sebagian besar belum berpenghuni, jadi tujuan manaruko. Jadilah suatu wilayah rantau baru diseberang laut. Wilayah rantau yang cukup luas itu membentuk pemerintahan sendiri dan diakui serta dilindungi oleh Kesultanan Johor waktu itu. Wilayah itu diberi nama Negeri Sembilan, membentuk Kesultanan. Sampai awal abad ke sembilan belas, raja-rajanya adalah turunan (jelasnya kiriman) dari Kerajaan Minangkabau. Sekarang Negeri Sembilan adalah bagian dari Federasi Malaysia, namun sebagian adat Minang masih dianut masyarakatnya.
Pada waktu Sultan Iskandar Muda menjadi Raja Kesultanan Aceh, sebagian wilayah pesisir Minangkabau direbut dan diduduki. Kesultanan Aceh akhirnya berdamai setelah Minangkabau berjanji tidak akan berdagang dengan “orang kafir” Belanda di timur melalui Batanghari/Jambi, Siak dan Inderagiri/Riau.

Ketentuan itu adalah kepentingan utama Aceh dalam menguasai pesisir. Semua hasil bumi dan tambang (terutama emas) harus diperdagangkan dengan Aceh melalui pantai barat (Air Bangis, Pariaman, Padang atau Balai Salasa). Dipandang dari sudut penyiaran agama Islam, pendudukan wilayah pesisir Minangkabau oleh Aceh ini justru menguntungkan sebab penyiaran agama oleh ulama-ulama Aceh menjadi lancar karena tidak lagi dapat dihalangi Belanda seperti waktu penyiaran melalui Riau.
Oleh karena itu agama menyebar dari pesisir barat menaik ke daratan Minang, sedangkan adat dibawa turun dari daratan Minang ke pesisir. Maka timbullah pepatah: “Adat menurun, sarak mendaki”.

Sampai suatu saat, agama Islam hanya dipakai sebagai lambang, termasuk oleh keluarga kerajaan. Segala perbuatan maksiat merajalela. Judi, mabok-mabokan, bid’ah dan pencurian sering terjadi. Tiga orang ulama yang baru kembali dari tanah suci Mekah terpanggil untuk memperbaiki masyarakat agar kembali ke ajaran Islam yang benar.
Ketiga ulama itu adalah Tuanku Imam Bonjol (yang kecilnya bernama Peto Syarif), Tuanku Sumanik dan Tuanku Piobang. Gerakan pembaharuan itu menetapkan aturan-aturan yang sesuai hukum agama. Ini membuat kaum bangsawan marah. Pertarungan terjadi antara pengikut dua pihak. Keluarga bangsawan yang hampir kalah minta bantuan Belanda. Dan Belanda dengan pintar memainkan perannya: “devide et impera”.

Karena anggota kaum pembaharu itu memakai jubah (gamis) berwarna putih, maka Belanda menyebut mereka sebagai kaum padri. Perang kaum padri dengan Belanda ini dinamakan Perang Padri. Karena perang itu dipimpin oleh Imam Bonjol, sering juga dinamakan Perang Bonjol.
Aceh yang mulai lemah tak lagi bisa berbuat banyak, bahkan Belanda dapat pijakan berdagang di pantai barat. Mulanya seorang datuk yang oportunis menyerahkan pulau Cingkuk, kemudian Padang (kota Padang sekarang). Dengan Perang Bonjol Belanda bahkan seratus persen menguasai wilayah Minangkabau. Karena akhirnya Belanda menduduki semua wilayah Minangkabau sampai pesisir, Belanda tak lagi memerlukan perdagangan melalui alur ke timur, perdagangan Minangkabau langsung dari pesisir barat yaitu kota Padang.Wilayah Minangkabau menjadi jajahan Belanda dan dijadikan Keresidenan “Sumatra Westkust” (Sumatera Barat), nama yang menjadi sejarah berdirinya provinsi Sumatera Barat.





Bagian II

HUBUNGAN KEKERABATAN DALAM MASYARAKAT MINANG:
POLA KELUARGA MATRIARCHY.

2.1 Suku dalam Bahasa Minang:

Dalam bahasa Indonesia, suku adalah kelompok besar masyarakat daerah, sehingga ada sebutan Suku Minang, Suku Jawa, Suku Sunda dan sebagainya. Mungkin kata suku dalam bahasa Indonesia dapat disejajarkan dengan kata “tribe” dalam bahasa Inggeris.

Dalam masyarakat Minang, suku terbentuk dari kelompok masyarakat yang memiliki tali darah sehingga dapat disejajarkan dengan “family name” dalam bahasa Inggeris. Namun karena tali darah itu dari pihak ibu maka istilah “family name” itu juga tidak terlalu tepat sehingga orang Minang yang diminta mengisi data-data demografi akan menggunakan nama ayah sebagai “family name”. Hubungan tali darah dari pihak ibu menyatakan nama suku, mulai dari generasi pertama (hubungan terdekat-satu ibu) sampai generasi tanpa batas (satu nenek, satu ibu nenek, satu nenek dari nenek dan seterusnya).

Jelasnya suku seseorang diwariskan dari suku ibunya. Jadi bila ibu si A bersaudara kandung (se-ibu) dengan ibu si B maka A dan B adalah anggota suku yang sama. Apabila A dan B masing-masing adalah perempuan, maka anak dari A (sebut A1) dan anak dari B (sebut B1) tetap menjadi anggota suku yang sama. Lain hal bila salah satu A atau B atau keduanya adalah laki-laki, maka maka anak dari lelaki A dan/atau B bukan menjadi anggota suku ayahnya, sehingga hubungan kekerabatan antar anak-anak nya tidak lagi dalam satu suku, karena mereka akan mengikuti suku ibunya.

Pada awalnya satu kampung (disebut jorong atau korong) ditempati oleh satu suku saja, karena tanah tempat mereka itu adalah warisan nenek moyang yang membuka hutan untuk perkampungan, peladangan atau persawahan, yang dalam bahasa Minang disebut “ma-naruko”. Namun karena pertambahan penduduk, disekitar tanah itu datang pula nenek moyang suku lain, sehingga ukuran jorong atau korong menjadi besar, dimana dalam satu korong bisa ada dua atau tiga suku. Beberapa jorong atau korong membentuk Nagari.

Kepala suku dalam Korong merupakan pilhan ninikek-mamak diangkat menjadi Penghulu (Pangulu). Apabila dalam Korong ada beberapa Penghulu karena ada beberapa suku, salah seorang dipilih menjadi Wali Korong dan pada beberapa wilayah disebut juga sebagai Penghulu Kepala (Pengulu Palo).

Kepala Nagari disebut Wali Nagari adalah hasil pilihan dari rapat niniek-mamak semua suku yang ada dalam Nagari dan disetujui oleh pemerintah setempat. (Catatan: Nagari pernah disebut desa pada jaman Orde Baru, bahkan ada korong yang disetarakan dengan desa, setelah reformasi sebutan Nagari dan Wali Nagari dihidupkan kembali).

Kepala suku dalam suatu Nagari biasa disebut Datuak Suku. Tergantung jumlah suku yang ada dalam suatu Nagari, begitu pula jumlah Datuak Suku. Datuak Suku biasa dipilih oleh rapat suku, namun biasanya yang dipilih adalah orang yang paling berpengaruh dan berbuat banyak kebaikan kepada suku-nya selama ini. Secara umum, biasanya Datuak Suku potensial terpilih menjadi Wali Nagari, tergantung hubungan dan wibawa yang bersangkutan terhadap para Datuak Suku lain dalam Nagari dan ada pula yang ditentukan secara bergiliran antara datuk-datuk suku yang ada dalam Nagari.


Riwayat Suku:

Masyarakat Minang pada awalnya hanya memiliki dua induk suku: Koto-Piliang (turunan dari Datuak Katemanggungan) dan Bodi-Chaniago (turunan Datuak Perpatih Nan Sabatang). Dari pekembangan kemudian, suku Koto berpisah dari Piliang, suku Bodi berpisah dari Chaniago. Kemudian suku Bodi pupus/hilang, sehingga terbentuk tiga induk suku yaitu Koto, Piliang dan Chaniago.

Dengan perkembangan zaman, perluasan wilayah tempat tinggal hasil ma-naruko dan pembentukan Nagari-Nagari baru, terbentuk pula beberapa anak suku. Walaupun dapat dirunut asal muasal induk suku dari suatu suku berdasarkan ciri rumah gadang-nya, namun saat ini tiap anak suku telah otonom memangku adat sukunya, otonom memilih Penghulu dan Datuak Suku. Oleh sebab itu generasi sekarang sering tidak tahu induk sukunya apalagi nama induk suku tetap dipakai oleh masyarakat seakan sejajar dengan anak suku.

Beberapa nama suku yang populer adalah:CHANIAGO, Guci, JAMBAK, KOTO, MELAYU, Pisang, SIKUMBANG, Singkuan dan TANJUNG, Tanjung Sumpadang, Tanjung BatingkahLimo Singkek, Limo Panjang, Kampai, Tigo Lareh, PILIANG,   Piliang Sani, Piliang Batu Karang, Piliang Guguak, Pitopang, Mandaliko, Sumagek, Balai Mansiang, Bendang, Simabua, Calimo, KUTUANYIA, Payobada, Panai dll. Masih banyak nama anak suku lainnya, namun tanpa bermaksud mengecilkannya, penulis tidak menuliskan secara lengkap. Nama nama suku yang ditulis dengan huruf besar, anggotanya tersebar disebagian besar wilayah Minangkabau.


2.2 Sebutan kekerabatan:

Berikut adalah sebutan kekerabatan yang dipakai orang Minang:

Ayah : ayah biologis.
Ayah tiri : suami ibu, tapi bukan ayah biologis.
Apak : saudara kandung atau saudara sepupu dari ayah baik dari pihak ibunya maupun dari pihak ayahnya.
Ibu : ibu biologis.
Ibu tiri : istri dari ayah, tapi bukan ibu biologis.
Mande (1) : ibu biologis.
Mande (2) : saudara kandung perempuan dan/atau sesuku yang masih dekat pihak ibu.
Mande (3) : saudara kandung perempuan dan sesuku yang masih dekat pihak ayah.
Uwai : bisa berarti ibu atau mande.
Uda : kakak laki-laki, atau panggilan kepada laki-laki yang lebih tua.
Uni : kakak permpuan, atau panggilan kepada wanita yang lebih tua.
Kak tangah : panggilan kepada istri kakak laki-laki.
Timudo = kak tangah : panggilan kepada istri kakak laki-laki.
Uni/Uniang : kakak perempuan, atau panggilan kepada perempuan yang lebih tua.
Mamak : saudara kandung laki-laki dan sesuku yang masih dekat pihak ibu.
Kamanakan : anak dari saudara kandung perempuan dan perempuan sesuku yang masih dekat (kebalikan dari mamak).
Mintuo : 1.panggilan kepada istri mamak 2.panggilan kepada ibu dari istri (mertua).
Penghulu : Pimpinan dari para mamak dari suatu suku dalam wilayah korong/jorong.
Datuak : Kepala suku dalam wilayah Nagari, bisa saja merangkap Penghulu. Seseorang yang diangkat sebagai datuak pasti diberi gelar sesuai dengan gelar salah satu mamaknya yang dulu jadi datuak.
Inyiak : kakek atau nenek, ibu atau ayah dari nenek/kakek atau lebih tua lagi.
Ungku : mamak dari ibu (lihat Mak Anduang)
Ayah tuo : ayah dari bapak atau ayah dari ibu
Anduang : nenek dari pihak bapak atau dari pihak ibu.
Mak Anduang : mamak dari ibu
Niniak mamak: Para mamak yang dituakan dan berpengaruh dalam suku atau dalam kelompok suku.
Dunsanak : Semua anggota suku dalam kelompok korong atau Nagari. Ada sebutan dunsanak sa-pa-suku-an yaitu se-suku tapi lain Nagari.
Anak pisang : Anak dari dunsanak laki-laki.
Bako : Dunsanak dari ayah.
Pambayan : Sebutan untuk suami dari saudara kandung istri (Hubungan antar suami dua perempuan bersaudara).
Bisan : Semua mamak dan mande dari menantu, termasuk ayah dan bakonya.
Urang sumando: Menantu atau menantu dari dunsanak.
Ipa : Urang sumando yang merupakan suami/istri dari saudara kita
Cadiak pandai: Para orang pandai dan berprestasi dan dihormati dalam Nagari.

Catatan 1:
Panggilan untuk kakak laki-laki uda atau udo berlaku untuk seluruh wilayah Minang.
Khusus di daerah Pariaman, disamping sebutan uda juga ada sebutan ajo.
Khusus di daerah Maninjau, disamping uda juga ada sebutan abang.

Catatan 2:
Panggilan untuk kakak perempuan uni atau uniang berlaku untuk seluruh wilayah Minang.
Dalam bentuk kata majemuk seperti mak-uniang, pak-uniang dsb., uniang diartikan (kulit) kuning. Khusus di daerah Padang Panjang, disamping sebutan uni juga ada sebutan kak/kakak.


2.3 Wilayah Minang

Seperti diterangkan dalam Tambo diatas, wilayah asli Minang terdiri dari tiga daerah dengan sebutan luhak, yang kira-kira dapat disepadankan dengan Daerah Otonom dalam sistim ketatanegaraan moderen. Dan sekarang tiap wilayah tersebut menjadi satu atau lebih kabupaten dalam Propinsi Sumatera Barat.

Luhak seakan membentuk “federasi” dalam kerajaan Minangkabau, tapi wilayah luhak sendiri masing-masing berupa ikatan “federasi” dari Nagari-Nagari. Walaupun adat Minang tetap diutamakan, namun tiap Nagari seakan berdiri sebagai Republik kecil dengan sistim pemerintahan dan peradilan sendiri. Hanya apabila menghadapi pihak luar, semua Nagari akan tunduk pada Kerajaan.

Tiga luhak yang asli Minang itu adalah Luhak Agam, Luhak Tanah Datar dan Luhak Limapuluh Koto, sering dijuluki Luhak Nan Tigo.

Wilayah yang dibawah pengaruh Minangkabau namun diluar dari Luhak Nan Tigo tersebut, disebut sebagai “Rantau”. Ada tiga Rantau yaitu wilayah Pariaman, wilayah Kerinci Jambi dan sebagian besar Riau daratan.

Kerajaan Minangkabau tidak dibentuk ataupun diperluas dengan kekuasaan peperangan, namun atas dasar kesetiaan kepada adat yang dijalankan oleh kaum yang menaruko jauh keluar wilayah luhak.

Harga diri orang Minang dibentuk oleh adat, sehingga seseorang akan sangat malu bila dikatakan tidak beradat.

Berbeda dengan wilayah Kerinci Jambi dan Riau daratan, wilayah Pariaman secara hukum selalu terikat dengan wilayah Luhak Nan Tigo. Pada waktu kerajaan Minangkabau berdaulat, yang dipertuan di Pariaman adalah Nan Tongga Magek Jabang, salah seorang kerabat raja Minangkabau. Dalam Keresidenan Sumatra Westkust jaman Belanda maupun sebagai Propinsi Sumatera Barat saat ini, wilayah Pariaman adalah adalah salah satu kabupaten. Akibatnya walaupun Kabupaten Padang Pariaman termasuk wilayah Rantau, hampir tidak ada perbedaan adat dengan Minangkabau.

Hanya orang Pariaman menerima gelar Sidi, Sutan atau Bagindo dari ayah selain gelar keturunan yang didapatkan dari mamak bila diangkat sebagai datuk suku, sama seperti halnya di wilayah Luhak dan memiliki nama suku-suku yang sama. Secara “matriarchy” orang Pariaman adalah seketurunan dengan orang-orang Luhak, berbeda dengan orang Kerinci Jambi dan Riau yang lebih condong ke ikatan “patriarchy”.

Sangat mungkin penyebab perbedaan wilayah Pariaman dengan bagian Minangkabau lain adalah akibat kondisi pada zaman Kesultanan Aceh dalam masa Sultan Iskandar Muda. Hampir seluruh pantai barat Sumatera mulai dari Subolga, Barus, Pariaman, wilayah kota Padang saat ini, Balai Salasa, sampai Muko-Muko di Bengkulu diduduki oleh Aceh.


2.4 Bahasa Minang dan asal penduduknya

Bahasa Minang berasal dari bahasa Melayu yang dahulu disebut sebagai Bahasa Melayu Tua atau Bahasa Melayu Randah. Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau yang dahulu disebut Bahasa Melayu Tinggi. Orang Minang termasuk ras Melayu bahkan sangat mungkin ras Melayu awal/asal.

Seperti dapat ditemukan dalam buku Riwayat Pulau Sumatera (Baca: “The History of Sumatra”, karangan William Marsden, Project Gutenberg EBook), suku Melayu yang ada di Semenanjung Melaka (sekarang disebut Malaysia) berasal dari Pulau Sumatera. Sampai abad ke 19, salah satu kerajaan di Melaka (Malaysia) masih diperintah oleh raja yang dikirim dari Kerajaan Minangkabau. Bahkan sampai sekarang keturunan Minangkabau masih memerintah sebagai raja di Negeri Sembilan, salah satu Negara bagian dari Malaysia.

Seperti dikatakan sebelumnya, kekuasaan Minangkabau bukan terbentuk atas dasar perluasan wilayah dengan peperangan, begitu pula dengan Negeri Sembilan. Walaupun rajanya dari Minangkabau, ia bebas memerintah namun setia mengikat diri secara adat kepada Minangkabau.

Sebagai bahasa yang berakar dari bahasa Melayu, bahasa Minang sangat gampang dipelajari oleh orang yang mengerti Bahasa Indonesia. Pada Bagian III tulisan ini, diberikan cara sederhana mempergunakan bahasa Minang. Walaupun tiap wilayah dalam daerah Sumatera Barat memiliki dialek sendiri, namun secara umum bahasa Minang dasar yang diberikan adalah sama dan dimengerti oleh tiap wilayah.


2.5 Syarat disebut Minang dan syarat disebut nagari (nogari)

Menurut adat seseorang boleh disebut sebagai orang Minang apabila:
- Punya suku (suku ibunya). Bila ibunya bukan orang Minang ia tak bisa disebut orang Minang
- Punya tanah ulayat (tanah suku/famili sesuku) yang tak bisa diperjual belikan
- Punya pandam pekuburan nenek moyang.
- Karena sudah diikrarkan :"Adat bersendi sarak, sarak bersendi kitabullah", maka orang Minang itu Islam

Dengan persyaratan diatas, sejatinya seorang Minang tak bisa atau tak mungkin jadi gelandangan, karena selalu ada tanah tempat bernaung. Kalau ada orang Minang pindah agama, ia akan dengan sendirinya terusir dari kampungnya.
Jangankan pindah agama, kawin antar satu suku saja pada beberapa suku terlarang dan dapat terusir dari kampung: Karena adat, tak boleh ada yang menaiki rumahnya (bertamu), tak boleh diminum airnya, tak boleh bertegur sapa dengannya. Hukuman sosial ini berarti ia terusir dari kampung

Dan suatu wilayah kampung bisa disebut nagari (nogari) apabila dipenuhi persyaratan:
Babalai bamusajik, basuku banogari, bakorong bakampuang, bahuma babendang, basawah baladang, bahalaman bapanendaman dan bapandam pakuburan.

Artinya suatu nagari (nogari) wajib memiliki: sawah, mesjid, batas nagari, terdiri atas korong dan kampung, ada sawah dan ladang/huma, ada lapangan bermain dan ada pandam pekuburan. Secara arif bisa diartikan bahwa suatu nagari (nogari) dapat disebut wilayah berdikari. Bahkan jaman dulu Nagari-Nagari itu seperti Republik-Republik kecil atau bisa juga sebagai Kerajaan-Kerajaan kecil dengan otonomi luas dan itulah yang membentuk Kerajaan Minangkabau yang bisa disebut berbentuk federasi.



Bagian III

PEMAHAMAN BAHASA MINANG

Pokok Pikiran:
Sering diberitakan punahnya beberapa bahasa daerah di Indonesia akibat pengaruh kurangnya pengguna dan pemakai, namun ada pula yang disebabkan kebanggaan memakai bahasa asing atau bahkan penggunaan bahasa Nasional. Disatu sisi tentu kita bangga bahwa masyarakat faham istilah bahasa asing dan membiasakan memakai bahasa Nasional, namun disisi lain kurangnya pengguna bahasa daerah bisa menimbulkan hilangnya bahasa daerah itu. Dalam harian Seputar Indonesia terbitan 10 Januari 2010, ada judul berita: “15 Bahasa Daerah Hampir Punah”. Hal ini tentu saja berakibat bukan hanya bahasa daerah yang hilang, namun bersamanya akan hilang pula budaya dan adat daerah itu, karena bahasa selalu berhubungan dengan budaya dan adat. Salah satu faktor yang menggugah penulis untuk membuat tulisan ini adalah sabagai kontribusi untuk melestarikan bahasa Minang agar tidak termasuk dalam berita masa depan sebagai bahasa yang (hampir) punah.


3.1 Nama-nama bulan dalam budaya dan bahasa Minang

Oleh karena Islam adalah agama resmi penduduk di wilayah Minang, maka nama-nama bulan adalah bersumber dari kalender Hijriah. Namun berbeda dengan kalender Hijriah yang asli, nama-nama bulan disesuaikan kegiatan masyrakat dalam kegiatan keagamaan.
Berikut diberikan nama-nama bulan dalam budaya Minang dan nama bulan itu menurut kalender Hijriah dicantumkan dalam tanda kurung:

Bulan Carai/Tabuik/Sura (Muharam)
Bulan Sapa (Safar)
Bulan Muluik (Rabiul Awal), diambil dari kata maulud Nabi
Adiak Muluik 1 (Rabiul Akhir)
Adiak Muluik 2 (Jumadil Awal)
Adiak Muluik 3 (Jumadil Akhir)
Bulan Sambareh (Rajab), diambil dari nama kue “sambareh” (serabi), yang selalu dibuat dan dihidangkan waktu berkumpul dan doa bersama menyambut bulam Rajab di mesjid. Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang diutamakan dalam Islam
Bulan Lamang (Sakban), diambil dari kata “lemang” yang selalu dihidangkan waktu berkumpul dan doa bersama di mesjid menyambut bulan Sakban. Hari yang diutamakan dalam bulan Sakban adalah yang dikenal dengan sebutan "nisfu sakban", yaitu pertengahan bulan sakban. Menurut Islam, sakban adalah juga salah satu bulan yang utama setelah Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah
Bulan Puaso (Ramadan), diambil dari kata puasa dibulan ini
Rayo (Sawal), diambil dari kata Hari Raya Idul Fitri dibulan ini
Adiak Rayo (Dzulkaidah)
Rayo Aji (Dzulhijjah), diambil dari kata Hari Raya Haji atau Hari Raya Idul Adha


3.2 Panggilan Sapaan

Di wilayah Minangkabau ada beberapa panggilan sapaan yang bisa terbentuk oleh hubungan kekerabatan namun bisa juga tidak berhubungan dengan kekerabatan. Panggilan sapaan itu diantaranya:

Sutan:
Di Minangkabau, panggilan “Sutan” secara umum adalah panggilan atau sapaan kehormatan kepada seorang yang belum begitu (akrab) dikenal, kira-kira setara dengan panggilan “Sir” dalam budaya bangsa Inggeris. “Sir” sebenarnya adalah gelar kebangsawanan yang dapat dipakai untuk orang kebanyakan yang dihormati atau yang diberi gelar “Sir” oleh raja atau ratu.

Sepadan dengan itu di Pariaman, seorang menantu laki-laki yang tidak bergelar dapat diberi (dipanggil) gelar "Sutan" atau "Bagindo" sesuai kesepakatan keluarga untuk penghormatan, namun anaknya tidak dapat mewarisi gelar tersebut.

Rangkayo:
Untuk wanita, panggilan kehormatannya adalah “Rangkayo”, kira-kira setara dengan panggilan “Madam” dalam budaya bangsa Inggeris.


Gelar Sutan, Bagindo dan Sidi:
Di Pariaman gelar Sutan dan Bagindo diriwayatkan sebagai keturunan bangsawan dan diturunkan dari gelar ayah. Sedangkan gelar Sidi yang juga diturunkan dari gelar ayah, adalah sebutan yang diberikan kepada salah satu kelompok penyiar agama Islam di Pariaman yang berasal dari Aceh. Penyiar agama tersebut adalah keturunan Arab-Alawin bermarga Jamallullail. Sudah umum dalam masyarakat di Indonesia, keturunan Arab-Alawin dipanggil Said, Sayed, Syed dan Sidi di lidah Pariaman (Referensi: “Asal Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb di Indonesia” karangan Prof.H.S. Tharick Chehab). Gelar bapak terus dipakai, namun suku dan adat dari ibu Minang tetap dipertahankan.

Datuak:
Sapaan lain yang juga sapaan kehormatan adalah “Datuak”. Pada umumnya seseorang disapa atau dipanggil “Datuak” apabila ia memang bergelar “Datuak” dari sukunya. Namun adapula sapaan “Datuak” sebagai penghormatan saja, walaupun ia bukan datuak suku.

Angku:
Sapaan kehormatan lain adalah “angku” (dari “engku”). Panggilan ini lebih umum dipakai untuk orang yang sudah dikenal baik untuk yang lebih tua maupun untuk yang sebaya.

Tuanku:
Sapaan kehormatan tertinggi adalah “Tuanku”. Sapaan ini khusus untuk para pemimpin besar termasuk sebutan untuk raja. Oleh karena sapaan ini adalah khusus untuk para pemimpin besar, maka didepan nama pemimpin langsung dicantumkan sebutan “Tuanku” layaknya gelar kebangsawanan, misalnya: Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai, Tuanku Rao dan sebagainya.

Mpuang dan kambuik:
Mpuang atau puang singkatan dari “urang sakampuang” merupakan sapaan antar sebaya baik dikenal maupun tidak, sebagai bentuk rasa kedekatan. Panggilan sejenis tapi hanya untuk yang sudah bersahabat dekat adalah “kambuik”.

Magek:
Panggilan magek semula adalah panggilan gelar sejenis Sutan, namun dengan perjalanan waktu sebutan magek berubah menjadi nama awal, misalnya Magek Duraman, Magek Marhimpun dsb.

Gelar magek juga dipakai di Malaysia dengan ejaan aslinya: megat, juga dipakai sebagai nama awal misalnya Megat Juned.

Malin:
Semula juga panggilan kehormatan, namun dengan perjalanan waktu, sebutan malin berubah menjadi nama awal, misalnya Malin Kundang.


3.3. Cara Sederhana Memahami dan Menggunakan Bahasa Minang

Karena banyak Nagari yang berbatasan dengan bukit, lurah atau ngarai dengan Nagari terdekat, komunikasi antar Nagari sering tidak mudah. Hal itu menimbulkan banyak ragam dialek dalam bahasa Minang. Walaupun komunikasi antar dialek sebagian besar masih dapat saling mengerti, namun ada beberapa dialek dari Nagari tertentu sulit dimengerti bahkan oleh sesama orang Minang. Oleh karena itu secara alami terbentuk bahasa kesatuan Minang yang umum dipakai dalam komunikasi sesama orang Minang, baik dalam bahasa perdagangan, pergaulan maupun adat. Bahasa tersebut adalah bentukan dari dialek campuaran, dan bahasa inilah yang akan dijelaskan berikut ini.

Penyusunan kalimat dalam bahasa Minang hampir tidak berbeda dengan susunan kalimat dalam bahasa Indonesia. Tatabahasanya pun sama dengan Tatabahasa Bahasa Indonesia. Namun kosakata bahasa Minang agak sedikit berbeda dengan kosakata bahasa Indonesia.

Ada dua kategori kata dalam bahasa Minang, masing-masing dijelaskan dalam Pasal 3.3.1dan Pasal 3.3.2.


3.3.1. Kata yang merupakan Bahasa Melayu


Kata yang sesungguhnya merupakan bahasa Melayu, namun dalam pemakaiannya diucapkan dengan aturan khusus, sehingga mudah dimengerti oleh orang yang mengerti bahasa Indonesia/Melayu Tinggi. Ini mencakup sebagian besar perbendaharaan kata dalam bahasa Minang, namun untuk kata-kata yang bukan asli Melayu, aturan dibawah ini tidak berlaku.
Untuk diingat, bahasa Minang seperti juga bahasa Batak, tidak mengenal huruf e lemah, yang ada e keras seperti dalam kata bendi, tenda, sepak, dsb. Dan apabila dalam tulisan bahasa Minang ada huruf e, berarti selalu dibaca e keras.

Perlu pula diingat bahwa dalam bahasa Minang, setiap dua huruf vokal bersambungan selalu dibaca sebagai satu vokal (sengau), kecuali untuk kata pai, huruf a dan i bukan sengau. Disamping itu, huruf k diujung setiap kata tidak dibunyikan hanya ditekan seperti dalam kata ledak Secara sederhana pemakaian kosa kata Minang sebagai bentukan dari kosa kata Melayu dapat dijelaskan dengan rumusan sebagai berikut:

1-a.
Setiap huruf e lemah diganti a : lemah menjadi lamah, engku menjadi angku, lemak menjadi lamak, keras menjadi kareh, cemas menjadi cameh, emas menjadi ameh dsb.
1-b. Setiap huruf e keras tetap dibaca e keras atau diganti i: kepang, setan, teko, cerek (ceret air), bengkok, belok, kelok, elok, kemah, sepak, sendok, kecoh menjadi kicuah (kombinasi dengan 1-q dibawah), dsb. Perlu diingatkan seperti juga dalam Bahasa Indonesia, bunyi sengau dua vokal ai bisa disingkat menjadi e keras misalnya satai menjadi sate, namun dalam bahasa Minang, ujung ai sering lebih banyak tetap dibaca ai misalnya gulai tetap dibaca gulai (bukan gule), petai dibaca patai (bukan pete) dsb. Kadang-kadang e keras dibaca i: kecoh menjadi kicuah (lihat 1-q).
1-c.
Setiap ujung kata ad diganti aik: abad menjadi abaik, ahad menjadi akaik, Ahmad menjadi Amaik
1-d.
Setiap ujung kata al yang dibaca hanya a saja, huruf l dihilangkan: gatal menjadi gata, sambal menjadi samba, tinggal menjadi tingga, dsb.
1-e.
Setiap ujung kata ab atau ap diganti ok (ujung k tidak dibunyikan seperti dalam kata banyak): asap menjadi asok, lengkap menjadi langkok (kombinasi dengan 1-a, lelap mejadi lalok (kombinasi dengan 1-a), suap menjadi suok, sembab menjadi sambok (kombinasi dengan 1-a), lembab menjadi lambok (kombinasi dengan 1-a) dsb.
1-f.
Setiap ujung kata as diganti eh: beras menjadi bareh, keras menjadi kareh, emas menjadi ameh, kemas menjadi kameh, dsb. (Semua contoh berkombinasi dengan 1-a).
1-g.
Setiap ujung kata at diganti ek (e keras, ujung k tidak dibunyikan seperti dalam kata banyak): empat menjadi ampek, cepat menjadi capek, lambat menjadi lambek dsb. Beberapa pengecualian, at diganti aik: mufakat menjadi mupakaik, selamat menjadi salamaik, sifat menjadi sipaik, cat menjadi caik, mayat menjadi maik, dan kata-kata yang bukan bahasa asli Melayu seperti debat menjadi debaik.
1-h.
Setiap huruf a diawal kata tetap dibaca a: ampun, arang, anak dsb.
1-i.
Setiap huruf a diakhir kata diganti o, kecuali bacaan dari kata asing tetap dibaca a: ada menjadi ado, tiga menjadi tigo, lima menjadi limo, kira-kira menjadi kiro-kiro dsb. Pengecualian pada beberapa kata tertentu adalah: kena menjadi kanai.
1-j.
Setiap ujung kata as diganti eh (e keras): beras menjadi bareh, keras menjadi kareh, kapas menjadi kapeh, nenas menjadi naneh dsb.

1-k. Setiap ujung ib, ip, atau it diganti ik (huruf k tidak dibunyikan seperti dalam kata banyak): tertib menjadi taratik (gabungan 1-a, 1-ab dengan 1-k), karib menjadi karik, khatib menjadi katik, sakit menjadi sakik, sulit menjadi sulik, pahit menjadi paik dsb.
1-l. Setiap ujung kata il diganti ia (vokal i dibaca penuh, huruf a dibaca selintas diujung seolah ia menjadi satu huruf vokal): sambil menjadi sambia, ganjil menjadi ganjia dsb. Pengecualian terjadi pada kata ambil, vokal ia diberi ujung konsonan k menjadi iak yang dibaca sebagai satu suku kata dimana ujung k tidak dibunyikan: ambil menjadi ambiak.

1-m. Setiap ujung kata ing diganti iang (vokal i dibaca penuh, huruf a dibaca selintas): tebing menjadi tabiang, genting menjadi gantiang, taring menjadi tariang dsb.
1-n.
Setiap ujung kata ir diganti ia (vokal i dibaca penuh, huruf a dibaca selintas): tabir menjadi tabia, bibir menjadi bibia, kincir menjadi kincia dsb.
1-o.
Setiap ujung kata is diganti ih: baris menjadi barih, tulis menjadi tulih, keris menjadi karih (gabungan 1-a dengan 1-o) dsb.
1-p.
Setiap huruf o di awal kata diganti u: orang menjadi urang, obat menjadi ubek, otak menjadi utak dsb.
1-q
Setiap ujung kata oh atau uh diganti uah (vokal u dibaca penuh, huruf a dibaca selintas diujung seolah ua menjadi satu huruf vokal): tumbuh menjadi tumbuah, runtuh menjadi runtuah, bunuh menjadi bunuah, kecoh menjadi kicuah, dsb.
1-r. Setiap ujung kata uk diganti uak (vokal u dibaca penuh, huruf a dibaca selintas diujung seolah ua menjadi satu huruf vokal, ujung k tidak dibunyikan seperti dalam kata banyak): kantuk menjadi kantuak, bungkuk menjadi bungkuak, tumbuk menjadi tumbuak, buruk menjadi buruak, beruk menjadi baruak dsb.
1-s. Setiap ujung kata ul diganti ua( vokal u dibaca penuh, huruf a dibaca selintas diujung seolah ua menjadi satu huruf vokal): timbul menjadi timbua, pukul menjadi pukua dsb.
1-t. Setiap ujung kata up dibaca uik (vokal u dibaca penuh, huruf i disuarakan selintas sehingga ui seaakan menjadi satu vokal, huruf k tidak dibunyikan seperti dalam kata banyak): cukup menjadi cukuik, tutup menjadi tutuik, dsb.
1-u. Setiap ujung kata ur diganti ua (vokal u dibaca penuh, huruf i dibaca selintas): atur menjadi atua, catur menjadi catua, hancur menjadi ancua dsb.
1-v. Setiap ujung kata us diganti uih: barus menjadi baruih, rakus menjadi rakuih, hapus menjadi apuih (gabungan 1-v dengan 1-ac), hembus menjadi ambuih (gabungan 1-a, 1-ac dan 1-v), halus menjadi aluih dsb.
1-w. Setiap ujung kata ut diganti uik (vokal u dibaca penuh, huruf i dibaca selintas diujung seolah ui menjadi satu huruf vokal, ujung k tidak dibunyikan seperti dalam kata banyak): kentut menjadi kantuik, patut menjadi patuik dsb.
1-x. Setiap huruf r diujung kata tidak dibaca: ular menjadi ula, gelar menjadi gala, gentar menjadi ganta, liar menjadi lia, pagar menjadi paga, sabar menjadi saba, kembar menjadi kamba, ter menjadi ta, ber menjadi ba dsb. Pengecualian untuk kata dengan suku kata yar diujungnya, dibaca yia: layar menjadi laia, bayar menjadi bayia dsb.
1-y. Setiap suku kata terakhir dari kata tanya dihilangkan, namun huruf a diujung suku kata tersisa tetap dibaca a: apa menjadi a, siapa menjadi sia, dimana menjadi dima, kemana menjadi kama, berapa menjadi bara, mengapa menjadi manga. Pengecualian terjadi untuk kata tanya yang berasal dari dua kata: bagaimana (bagai dan mana) menjadi baa, kenapa (kena dan apa) menjadi dek-a.
1-z. Awalan ter dibaca ta (ini sebenarnya sesuai aturan gabungan 1-x dan 1-a diatas): terbaca menjadi tabaco, tertimpa menjadi tatimpo dsb.
1-aa. Awalan ber dibaca ba ( idem aturan 1-a dan 1-x): berkembang menjadi bakambang, bertinju menjadi batinju dsb. Bila ber bukan awalan maka dibaca bo atau bu: bernas menjadi boneh, berita menjadi burito atau barito dsb.
1-ab. Kalau bukan awalan, suku kata yang berakhiran huruf r (bukan ujung kata, lihat 1-x) diberi huruf a tambahan: serta menjadi sarato (dapat disingkat menjadi sato), harta menjadi harato, terbang menjadi tarabang (dapat disingkat menjadi tabang) dsb.
1-ac. Huruf h didepan suatu kata tidak dibaca: hidup dibaca iduik, hilang dibaca ilang, hampa menjadi ampo dsb.

Kecuali kata-kata yang khusus seperti yang dibicarakan dalam ayat 3.3.2 dibawah, semua kata bahasa Indonesia yang tidak diatur selain aturan 1-a sampai dengan 1-ac diatas diucapkan dan diartikan persis seperti bahasa Indonesia misalnya: alam, aman, asah, baru, basah, batu, bawah, bengkok, biru, bisu, bulan, buntu, buru, daki, dalam, damai, garam, gulai, guru, jadi, jalan, kacang, kami, karam, karang, kayu, lampu, lidah, lidi, lobak, makan, mimpi, mulai, padi, pandai, pangku, pendek, rumah, ragu, sagu, salah, salam, sampai, sate, sawah, singgah, sombong, sumbu, sumpah, tambun, tampak, tandan, tembok, tinggi, tiru, tukang, tumpu, ubi, dllsb.
Beberapa kata dalam bahasa Indonesia, walaupun terpakai dalam bahasa Minang, artinya bisa tidak sama. Praktek berbicara dalam bahasa Minang dalam lingkungan yang asli, akan dapat memahami perbedaan arti tersebut.


3.3.2. Kata Asli Bahasa Minang


Kata asli bahasa Minang biasanya berasal dari salah satu dialek di Minangkabau, yang tidak ada persamaan sama sekali dengan kata dalam bahasa Indonesia/Melayu Tinggi, misalnya: kecek, tako/cako, bakatintin, bako, mancilua, mancolobia, dan sebagainya.

Termasuk disini kata-kata yang berasal dari bahasa Melayu lama yang walaupun terkadang dipakai dalam sastra, sangat jarang dipakai dalam bahasa Indonesia sehingga dalam dialek Minang makin sulit dimengerti orang yang bukan asli Minang misalnya: alek (dari kata helat), mambana (dari kata membenar), basimbuah (dari kata bersimbuh), lindok (dari kata lindap) dan sebagainya. Dapat diperkirakan kata kata seperti ini sangat sulit dimengerti oleh orang yang bukan asli orang Minang, namun jumlahnya sedikit, mungkin kurang dari 10 persen dari perbendaharaan kata bahasa Minang.
Ada dua jenis kata-kata khusus dalam bahasa Minang yang tidak sepenuhnya berakar dari bahasa Melayu, artinya tidak bisa dibentuk kedalam bahasa Indonesia dengan aturan yang diterangkan dalam kategori tersebut pada Pasal 3.3.1 diatas.

a. Kata-kata yang dapat diartikan kedalam bahasa Indonesia atau ada padanannya tetapi
tidak terbentuk menurut cara yang dijelaskan pada kategori Pasal 3.3.1 diatas.
b. Kata-kata yang tidak dapat diartikan kedalam bahasa Indonesia (tidak ada padanan)
serta tidak terbentuk menurut cara yang dijelaskan pada kategori Pasal 3.3.1 diatas.

Jumlah kata-kata khusus ini relatif sedikit dibandingkan dengan kata-kata yang berdasar bahasa Melayu. Bahkan pengguna bahasa Minang yang sulit mengingatnya dapat saja mengganti suatu kata khusus itu dengan kata lain yang sama artinya dan berasal dari bahasa Melayu, asalkan sesuai dengan kaidah yang disebutkan pada kategori Pasal 3.3.1 diatas.

Berikut ini diberikan daftar kata-kata khusus tersebut. Sebagian dari kata-kata berupa nama masakan atau kue atau yang sangat jarang dipakai tidak dimasukkan kedalam daftar ini. Kata atau keterangan dalam tanda kurung dibelakangnya adalah artinya dalam bahasa Indonesia, dan bila tidak dicantumkan sesuatu setelah kata itu, berarti tidak ada padanannya, dan hanya dimengerti oleh masyarakat setempat (yang mengerti “mother’s tongue” diwilayah itu).

- abang (dialek Maninjau, lihat uda)
- abak (bapak, ayah)
- abuih (rebus)
- acek (sejenis lintah darat, pacet)
- acok (dari acap, namun artinya acap kali)
- adang (lihat gadang)
- aden, den, denai (saya/aku)
- agiah, paragiah (beri, pemberian)
- ago (tawar harga)
- ajan (dialek Pariaman, lihat nio)
- ajo (dialek Pariaman, lihat uda)
- akak (dialek Padang Panjang, lihat uni)
- alah (telah, sudah)

- alek (dari kata helat berarti pesta, dapat juga berarti tamu undangan dalam perhelatan)
- alia (1.licin 2.kurang waras)
- alun, balun (belum)
- ambek (dari hambat berarti menghalangi)
- ambiak (ambil)
- ambo (dari hamba, berarti saya)
- ampok (judi)
- ampulai, marapulai (mempelai pria)
- ampulu (serabut dalam daging buah)
- amuah (lihat namuah)
- amuak (dari amuk, namun artinya menusuk dengan suatu benda tajam seperti pisau)
- anak daro ( dari “anak dara”, namun berarti mempelai wanita)
- ancik ( tunggu dulu, nanti)
- andia (dari “pandia”, berarti bodoh)
- andok (dari kata endap, namun artinya sembunyi; lihat juga kata "mandok")
- anduah (dianduah, kedua tangan diikat kebelakang)
- anduak (hutang, pinjam)
- anduang (nenek)
- ang (lihat wa-ang)
- angek (hangat)
- angek garang (keras dan kejam, panggilan kepada raja yang jahat)
- angiah (sesak nafas)
- angik (bau makanan hangus)
- angok (nafas)
- anok (diam, tanpa suara)
- antik, lih. ancik
- antimun (mentimun, ketimun)
- antok lih. anok
- apik (dari kata jepit, bisa diartikan ikan atau ayam yang dimasak dengan dipanggang)
- apuik (kemaluan wanita)
- arang 1. kareh arang (mulut, keras mempertahankan pendapat walau mungkin salah) 2. (arang, bara yang sudah padam apinya)
- arek, 1.arek manyusu (masa, masa menyusu) 2. (erat)
- atah (butiran padi tak terkupas dalam beras)
- atua (dari atur, bisa berarti atur bisa juga berarti menusuk sate, hidung kerbau dsb)
- aua (dari aur, artinya bambu)
- awak (aku, kita)

- baa (bagaimana)
- babega (sebutan untuk keadaan awan putih yang bergerak perlahan = awan cumulus)
- baeko, baiko, beko (nanti)
- bagak (berani)
- bainai (memakai inai/pacar cina)

- bairik (berderet, berdiri)
- baitu (begitu)
- baiyo (dari beriya, maksudnya berunding agar terdapat kesepakatan antara dua orang)
- bak (bagai, seperti . Huruf k tidak ditekan seperti pada kata salak)
- bakaliliang (dari kata berkeliling, artinya melakukan gerak/kerja mengelilingi) Contoh: Kami lah latiah bakaliliang, nan dicari indak basuo
- bakalintin (lengket kental)
- bakarek "rotan" (putus "hubungan kekeluargaan yang tak bisa diperbaiki")
- bakatintin
- bakatindak bakatindin (perayaan, pesta)
- bakiak (terompa/sandal dari kayu)
- bakuhampeh (saling membanting/menghempaskan dalam perkelahian)
- bakulik (bisa berarti berkulit, bisa juga suara elang menurut telinga Minang)
- bakuliliang (dari kata berkeliling, artinya keadaan yang mengelilingi) Contoh: Kami duduak bakuliliang; Kabun tu bakuliliang paga aua
- bako (keluarga dari pihak ayah)
- balai (dari bhsmelayu lama, pasar)
- balai-balai (tempat tidur-tiduran biasanya di ruang tamu atau teras, setara dengan "sofa")
- balairung (ruang permusyawarahan raja dengan para pembatunya, atau tempat raja menerima tamu)
- balantak (jenis senapan yang diisi mesiu sebelum ditembakkan)
- balapak, kain balapak (kain tenunan khusus)
- baluambek (jenis pencak silat penerimaan tamu dalam acara perkawinan)
- balun (lihat alun)
- balunau (berlumut)
- bancah (tanah rawa, berair)
- banda (dari bandar, berarti saluran air)
- bandua (beranda, bagian depan rumah)
- bangih (dari “bengis” namun berarti marah)
- bangka (dekat pangkal pohon/kayu)
- bangkang (sombong, merasa jago)
- baruah (hilir sungai, bisa juga arah kebawah lereng bukit)
- basiarak (berkelahi)
- basilutu (berlepotan, kotor)
- batagak (membangun, mendirikan rumah)
- batenggek (bertengger)
- batimbo jalan (kiri-kanan jalan)
- batu lado (batu gilingan cabe)
- baun (bau)
- bauni (1.menyebut “uni” 2.berpenghuni)
- beeko (nanti)
- biduak (dari biduk, sampan)
- bigau (hantu, kuntilanak)
- bijo (biji, bibit)
- bingkaruang (kadal)
- binuang (nama kerbau dalam legenda Minang)
- bisan (besan, orang tua dari menantu)
- boco-aluih (kurang waras, sinting)
- buhua (simpul sambungan tali)
- buliah (boleh)
- buluah (dari buluh, berarti bambu)
- bungka (batu cadas)
- bungkah, babungkah (gumpal, bergumpal)
- buni (bunyi)
- bunian, (si)bunian (roh halus, hantu)
- burito (berita)

- cabuak (memasukkan sesuatu seperti tangan atau alat lain kedalam masakan yang masih baru)
- cacau (tak mantap pendirian)
- cacek (dari cacat, artinya celaan)
- cakak, bacakak (berkelahi)
- cakiak (cekik)
- cako, tako (tadi)
- cakua (kencur)
- calak (penghitam alis mata)
- caliek (lihat, dari singkatan coba lihat)
- camtu (singkatan dari: "macam itu")
- cancang (daging cincang, tetelan)
- cancia (dari singkatan macam kancil-dibaca cancia-, cerdik agak licik)
- cando, bakcando (seperti, bebuat seakan)
- cegak (sembuh dari sakit)
- cendang (sedikit juling tak terlalu kentara), lih. sela
- cik (lih.cirik)
- ciek (satu)
- cigok (lihat "cingok")
- cikcaruik (mengucapkan kata-kata kotor)
- cilok (curi)
- cindua (cendol)
- cingkarak (anak nakal)
- cingok (lihat, intip)
- cipuik (kata-kata jorok tanpa arti jelas)
- cipak, bacipak (sebutan untuk suara orang makan, juga berarti dapat untung mendadak)
- cirik (kotoran, tai)
- co (singkatan caro dari kata cara; coiko=cara ini, beginilah; cotu=cara itu, begitu caranya)
- cubadak (nangka/cempedak)
- cukia, cungkia (congkel)
- cupak (tempat menyimpan beras, padi dsb)

- dabiah (sembelih, gorok)
- dadiah (susu yang diasamkan)
- dagang (orang yang merantau, atau pekerjaan berniaga)
- daguak (dagu)
- dakok (sama dengan dakek dalam dialek khusus, artinya dekat)
- dalang (gila, sakit jiwa)
- dama-dama (sendi mata kaki)
- dawaik (dawat, tinta)
- dek (oleh/karena)
- den, denai (lihat aden)
- didik (1. kk-ajar 2. ksf-pikun, sering lupa karena tua)
- doh (dong, tapi bentuk negatif/menidakkan misal: indak itu doh=bukan itu dong)
- donek (kecil, kerdil)
- dukuah (kalung perhiasan)
- dubalang (hulubalang)
- dunsanak, dusanak (keluarga sesuku)

- ele (lih. tele)
- elo (hela, menarik agar dekat)

- gabak (awan hujan)
- gaca (encer, biasanya istilah untuk tinja)
- gadabah (babi hutan)
- gadang (besar), sering disingkat "adang" untuk penyebutan panggilan misal: mak adang, panggilan kepada mamak tertua, nak adang panggilan kepada tingkatan anak tapi lebih tua.

- gado (dari kata gada, lihat: panggado)
- gaek (tua, orang tua)
- gajebo, gajeboh (lemak atau berlemak)
- galak (dari gelak, berarti tertawa)
- galeh (1. gelas, 2. dari galas berarti berdagang)
- galia (cerdik agak licik)
- gamang (takut jatuh)
- gapuak (gemuk, gendut)
- garah, bagarah (berkelakar, bergurau, melucu)
- garak (dari gerak, berarti perasaan gaib yang akan terjadi)
- garik (dari gerik, berarti gerakan atau melakukan gerakan sesuatu)
- garang (perilaku keras ingin menguasai)
- gayuang (tendangan silat, atau serangan kata-kata)
- gombak (sisiran rambut yang dibuat bergelombang keatas)
- gonjong (bentuk atap rumah adat Minangkabau)
- guguak (bukit kecil)
- gumarang (nama kuda dalam legenda Minang)
- gunggulang (=gulang-gulang, pondok dalam sawah, dangau)
- gutuo (pembantu guru mengaji, singkatan dari guru tuo = guru tua)

- hongok (tolol)
- hawo, lapeh hawo (dahaga, tak dapat apa-apa)

- iko (ini)
- inai (pacar cina, pemerah kuku)
- incek (biji buah)
- indang (sejenis tarian khas Pariaman, hampir sama dengan tari saman dari Aceh)
- induak (ibu)
- induak bareh (asal kata “induk beras”, namun diartikan/berarti istri)
- intai (sama dengan bahasa Indonesia intai, tapi dapat juga berarti mendekati anak gadis)
- inyiak (kakek, nenek, bapak atau ibu dari nenek/kakek atau lebih tua lagi)
- inyiek balang ( sebutan kehormatan pada harimau, maksudnya agar tak diganggu harimau) 
- irik 1. (deret, bairik = berderet)
- irik 2. (hemat, bairik = berhemat)
- irik 3. (tarik, seret, tuntun; mairik tali kabau = menuntun kerbau)

- jamba (makanan dan lauk pauk dalam satu wadah untuk dimakan bersama di mesjid)
- jambak (nama salah satu suku Minang)
- jariah (1. usaha/jerih, 2. lelah)
- jariang (1. jengkol, 2. jaring)
- jawek (menerima dengan tangan, salah satu dialek mengartikan jawab)
- jawi (sapi)
- jo (1.dengan 2. panggilan pada kakak laki-laki di Pariaman, singkatan "ajo")
- jolong (mula-mula, mulai)
- jorong atau korong (kampung)

- ka (dapat berarti ke, bisa juga akan)
- kaba (1. kabar 2. cerita, dongeng)
- kabek (ikat)
- kaciak (lihat ketek, kecil dari bhs Melayu lama kecik)
- kaco (dari kaca namun berarti botol)
- kada (kudis)
- kakkarak (sebutan bagi anak-anak bandel)
- kalamari (kemarin dulu, hari sebelum kemarin)
- kalera (makian antar teman, seperti buset, brengsek dsb, dari kata "penyakit" kolera)
- kalikih (pepaya)
- kambuik (1.wadah dari anyaman daun pandan, 2. panggilan ejekan sesama teman)
- kampia (tas tangan kecil dari anyaman daun pandan)
- kampo (pencet dengan dua tangan untuk memecahkan sesuatu)
- kana, takana (kenang, terkenang/teringat)
- kanai (kena); kanai ati (jatuh cinta)
- kanciang (1. kurang ajar/makian, 2. bisa juga berarti kancing baju)
- kapatang (kemarin)
- kapuyuak (kecoa)
- karaia (dari "ke air", artinya kencing bisa juga pergi ke sungai)
- karambia (kelapa)
- karek, sakarek (potong, sepotong)
- karengkang (= kareh kapalo, keras kepala)
- karetangin, kareta angin (sepeda)
- kateh (keatas, bisa juga dimaksudkan waktu mendatang, atau ke mudik sungai)
- katelo, pisang katelo (dari ketela namun berarti: pepaya)
- katidiang (bakul agak besar dari anyaman bambu)
- katuju (suka, setuju biasanya untuk barang atau jodoh)
- kasai (bedak dari bahan tepung beras)
- kasiak (pasir)
- kasumbo (merah)
- kasungai (dialek Pariaman, dari "ke sungai" artinya kencing)
- kau (lihat wa-akau)
- keboh (kidal)
- kecek (kata, ujar)
- kencuik ( kempot)
- kepeang (lih.pitih, uang)
- ketek (kecil)
- kicuah (dari kata kecoh, tipu)
- kida (dari kata kidal tapi berarti kiri)
- kinalun (pisang raja)
- kinantan (ayam hutan)
- ko (singkatan iko, lihat iko)
- kodak, bakodak (foto, berfoto)
- kok (kalau)
- konco-kareh (asal kata “konco keras”, diartikan sahabat kental)
- koto (1. nama suku 2. desa/dusun 3. kota)
- kubak, takubak (kupas, terkupas)
- kudian (kemudian)
- kudok, mangudok (dari kudap, artinya: makan lauk tanpa nasi)
- kuhua (batuk)
- kulek, mangulek (kunyah, mengunyah)
- kulincik (Untuk sesuatu yang terbungkus: bagian tutup luar dibalik sehingga isi dalam kelihatan)

- labuah, labuah gadang (jalan besar, jalan raya)
- ladiang (dari lading, artinya golok besar untuk memotong)
- lado (dari kata “lada”, diartikan cabe)
- lado padi (cabe rawit)
- lai (dari lagi, berarti: 1.lagi 2.adakah 3.masih/masihkah 4.apakah)
- lala, malala (pergi keluar rumah untuk bermain tanpa tujuan)
- lalok (dari lelap, berarti tidur)
- lamak (dari kata lemak, artinya 1. enak, 2. lemak daging)
- lambiak ( 1. lembek-untuk nasi, 2. berlumpur untuk tanah)
- lampin (rajutan kain penahan panas untuk memegang panci panas dsb)
- lancik (bokong, pantat, dubur)
- langkan (beranda rumah)
- langsai, lih. lansai
- lansai (terbayar lunas)
- lansano (pohon angsana)
- lapau (lepau, warung khusus makanan, minuman atau nasi)
- lapiak ( tikar dari anyaman daun pandan)
- lapeh-hawo (lepas angin, artinya tak berhasil mendapatkan untung)
- laruik (dari larut, berarti 1. mendekati tengah malam 2. sedih)
- latah ( kotoran tanah kering)
- lauak (dari lauk, berarti ikan)
- laweh (kata sifat: luas)
- limau (jeruk)
- limbek (ikan lele)
- limbubu (angin kencang)
- limpapeh (hiasan rumah)
- lindok (dari lindap, redup, agak gelap)
- lintuah (lunglai)
- litak (lapar)
- loncek (1. loncat, lompat 2. kodok,katak)
- lubuak (lubuk, palung/bagian dalam dari sungai)
- luhak (wilayah adat di Minangkabau)
- lulua (telan)
- luluak (kotoran tanah basah)
- lurah (cekungan antara bukit-bukit)

- maagak (memperkirakan, bisa juga berarti mempertimbangkan perasaan orang)
- maaja (dari kata mengajar, bisa berarti mengajar namun bisa berarti menyiksa)
- mada (kebal)
- madu (dialek Pariaman,lihat: tacirik)
- magek (gelar kebangsawanan, namun sering menjadi awal nama orang biasa)
- maja (tumpul)
- malakok (mendekatkan diri, kelompok kecil suatu suku minta berkerabat-bagaikan sesuku- dengan suku lain yang lebih besar atau lebih dahulu tinggal didaerah tertentu)
- malato (dari melata, berarti bepergian)
- malingka (melingkar, berputar)
- mambana (mohon pengertian dengan cara berterus terang)
- mambuntu ( merengut)
- manaruko (membuka hutan untuk perladangan dan atau pemukiman)
- mancik (dari mencit, berarti tikus)
- mancilua
- mancolobia
- mancudik (muncrat, memancar)
- mandan (teman, pasangan bermain)
- mande anak (madu, istri lain dari suami)
- mandia, bamandia (angan-angan, berencana/berandai-andai)
- mandok (dari kata mengendap, namun berarti bersembunyi)
- manganai (dari kata mengena’i, namun berarti berhubungan badan)
- manggado (melempar sesuatu dengan benda seperti batu, kayu dll.)
- mangirok (asal katanya mikraj, diartikan terbang menghilang ke langit)
- manjarang (memasak diatas tungku/perapian)
- mansi, mansiang (enceng gondok)
- mantialau (burung kepodang)
- marabo (mendadak marah)
- marabo-rabo (berulang-ulang marabo)
- marah (di Padang kota: salah satu gelar kebangsawanan; di Pariaman: sebutan bagi yang tak punya gelar sutan, bagindo atau sidi)
- marapulai, (lihat: ampulai)
- marasai (menderita, tak berdaya)
- masin (1.rasa asin 2. mesin)
- matah (mentah, bisa juga sebutan untuk perempuan muda)
- maupek (dari kata mengumpat, berarti menyesali sesuatu)
- mukasuik (maksud, rencana)
- muncuang (dari moncong, berarti mulut orang atau hewan, atau ucapan)
- mancudik (memancar)
- muntiko, muntiko cirik (nakal, jahil)

- nagari (1. negeri 2. satuan pemerintahan lebih tinggi dari desa namun lebih kecil dari kecamatan)
- nak (1.singkatan anak 2. hendak, mau 3. agar)
- namuah (mau, suka)
- nan (yang)
- nangko (singkatan nan iko, yang ini atau ini)
- nantun (singkatan nan itu, itu atau yang itu)
- ngarai (cekungan dalam antara bukit/gunung)
- nio (mau, ingin, suka)
- niru, nyiru (penampi beras)
- nyo, inyo (1.nya atau dia 2. biar)

- onde, ondeh (singkatan oh mande(h), aduh mak, aduh ibu)
- ota, maota (1.bual, membual, cerita tak jelas kebenarannya), (2. ngobrol, mengobrol)
- oyak (goyang)

- padusi (perempuan, wanita)
- paelok'an (lih: pelok'an)
- pagang (gadai khusus untuk sawah, kebun dan tanah secara umum)
- pagu (langit-langit rumah, plafon)
- pai, dimana a dan i bukan sengau, dibaca terpisah (pergi)
- paja (anak kecil, orang/anak asing yg belum dikenal)
- pakan (dari kata pekan, artinya pasar-dulunya diadakan sekali seminggu)
- paibo, paibo ati (sifat suka bersedih hati)
- paik (dari kata pahit, sesuai kaidah diatas berarti pahit)

- pakuak (bacok, memukulkan golok pada sasaran, bisa juga dengan tangan kosong dalam ilmu silat)
- pakuang (borok di kulit yang melebar dan kadang-kadang bernanah)
- palauak (senang makan ikan, dapat berarti kiasan: senang menggoda wanita, play boy)
- palo (singkatan dari kapalo, artinya kepala)


- paluah, bapaluah (peluh/keringat, berkeringat)
- paluak (dari peluk tapi berarti memangku diatas paha)
- pandak (pendek)
- pandeka (dari kata pendekar, artinya ahli silat yang berbudi baik sebagai penjaga kebenaran dan nagari)
- pandia (dari pandir, lihat andia)
- panguah (lihat daguak, dagu)
- pamenan (mainan anak)
- paneh (dari panas, namun bisa juga berarti hari panas dengan matahari yang cerah) 
- panggado (benda untuk melempar berupa batu/kayu)
- panggalan (galah bambu untuk memetik buah)
- pangkua (cangkul)
- paniayo (penganiaya)
- pantek (dari kata “pantat”, namun diartikan sebagai kemaluan wanita)
- papeh (pancing)
- parabo (sifat yang suka mendadak marah)
- parak (kebun)
- parasaian (nasib, pengalaman atau penderitaan hidup)
- pareso (periksa)
- parewa (ahli silat yang urakan suka mengganggu orang, preman)
- parian (batang bambu yang dipakai untuk menyimpan atau mengangkut air)
- paturuikkan (ikuti, penuhi)
- pelok'an atau paelok'an, mampaelok'an, dipaelok'an (dari perelokkan : perbaikan, memperbaiki, diperbaiki)
- perai (bebas bayar/gratis)
- piaweh (jambu biji / klutuk)
- picak (pipih)
- picarai (beras biasa, bukan ketan)
- pincuran (pancuran yang biasa dipakai untuk mandi bersiram)
- pinggan (piring makan)
- pinjaik (dari kata penjahit, berarti jarum untuk menjahit)
- pinto (permintaan, nasib)
- pitaruah (titipan, wasiat)
- pitih (uang)
- pitok (sipit)
- pituo (petuah)
- pupuih (pupus keturunan, sirna, habis)
- puro (dari kata pura, namun artinya dompet)
- puru (penyakit kulit frambusia)
- puti (dari kata putri, anak raja/bangsawan, sekarang sering menjadi nama biasa)

- ramo-ramo (rama-rama, kupu-kupu)
- ranai ( lih.rinai, hujan gerimis)
- rancak (bagus, cantik)
- rang, urang (orang)
- rangkiang (bangunan lumbung padi)
- rantak (meronta, marah memprotes, nama sejenis tarian)
- rantau (tempat menetap baru atau orang yang pergi menetap ditempat baru)
- rasian (mimpi, barasian=bermimpi)
- rinai (lih.ranai. hujan gerimis)
- rusuah (dari rusuh, tapi berarti sedih)
- rutiang (ikan gabus)

- sabak (sedih seakan meneteskan air mata)
- sadonyo (semuanya)
- saka (gula merah dari nira kelapa atau nira aren)
- sala, sala lauak (goreng, goreng ikan)
- salang (pinjam), manyalang (meminjam)
- saluang (jenis kesenian campuran suling dan syair)
- salek (jepit, tasalek=terjepit/tersembunyi dari pandangan)
- samba (1. sambar, menangkap dengan sergapan 2. sambal, a.sambal cabe, b.goreng atau gorengan contoh: samba lauak artinya goreng ikan, manyamba ayam artinya menggoreng ayam bisa pula berarti menyambar ayam bila pelaku adalah burung elang atau musang misalnya)
- sambilu (sembilu, kulit bambu yang tajam bisa berfungsi bagaikan pisau)
- sambuik (1. sambut 2. rahang/susunan gigi bawah menonjol kedepan)
- sangkak (sangkar atau kandang)
- sansai, lih. sansaro (sengsara)
- sansaro (sengsara)
- sapangka (tuan rumah yang punya hajat)
- sarawa (celana lelaki)
- sarok
- sasah, manyasah (cuci, mencuci pakaian)
- saulah (sifat anak yang tidak rewel)
- sela (juling), lih. cendang
- siarak, basiarak (berkelahi)
- siarik (sejenis tali dari kain yang diikatkan ke kaki membantu untuk memanjat pohon kelapa)
- sibak (sisiran rambut miring ke kiri atau ke kanan)
- sicerek (tanaman kantung semar)
- sigai (tangga berkaki satu)
- sigi (mencari dengan penerangan seadanya)
- sikaduduak (sejenis pohon perdu berbuah kecil dan manis menjadi makanan burung)
- sikek (dari sikat, berarti sisir)
- sikajuik (dari sikejut-sejenis semak, dalam botani dinamakan putri malu)
- sikua (se-ekor)
- sikucapang sikucapeh (mengejar sesuatu tak berhasil, yang ditinggal malah hilang)
- simangko (lihat sumangko)
- simpadan, sipadan (batas tanah)
- sinan, disinan (situ, disitu, disana)
- sinayan (nama hari: Senen)
- singgarik (tali yang diikatkan pada kedua kaki sebagai alat bantu memanjat pohon)
- singkok, tasingkok (dari singkap, berarti terbuka dari tutup/pakaian)
- sipangka (tuan rumah yang berhelat/pesta)
- sipuluik (beras ketan)
- sirauik (sejenis pisau kecil yang sangat tajam)
- sisuak (zaman dahulu)
- sobok, basobok, tasobok(bertemu tanpa sengaja)
- sompong, karambia sompong (bolong, buah kelapa yang bolong dimakan tupai)
- sosoh (basosoh, perang satu lawan satu dalam pertempuran jarak dekat, biasanya pakai bayonet karena peluru senapan tak sempat lagi ditembakkan)
- suaso (suasa, campuran tembaga dengan perak)
- subang (anting-anting perhiasan)
- sukek (alat takar volume padi, beras dsb dan bisa juga berarti mengukur volumenya)
- sulah (botak)
- sumangko (buah semangka)
- sumpik (karung dari anyaman daun pandan)
- sunguik, suk-sunguik (kumis)
- sunyampang (seandainya)
- suok (kanan, bisa juga berarti suap)
- surang (seorang)

- tabek (kolam galian berdinding tanah tempat beternak ikan lele dsb)
- tabuak (membolongi, melubangi)
- tacelak (berkulit mulus putih)
- tacirik (buang air besar)
- tagaliciak,taguliciak (tergelincir, terpleset)
- ta ibo (ter iba hati, merasa sedih)
- tajak (cangkul)
- takalok (terlena, tertidur sesaat)
- takana (terkenang, teringat)
- takarangko (dari terkerangka, sesuatu barang/bangunan hampir jadi, tinggal finishing)
- takok (terka, tebak)
- takok taki (teka teki)
- talangkai (masa/waktu antara kedua pihak orang tua berkomitmen untuk mengawinkan anak lelaki dengan anak perempuan masing-masing mereka sampai waktu ijab kabul pernikahan).
- talok (dari bhs Melayu kuno "telap" artinya sanggup menahan atau melawan)
- talunggang (tumpah)
- tambi (1. hitam legam 2. sebutan untuk orang Keling/India)
- tambo (sejarah bercampur legenda)
- tandeh (dari tandas, habis total, bisa juga berarti orang yang sangat miskin)
- tangga (1.lepas, copot 2. tanggal)
- tangka (dari kata tengkar tetapi berarti keras kepala)
- tapian (tepi sungai, tempat mandi dipinggir sungai)
- tapico (lepas dari pengawasan/pandangan)
- taragak (teringat, merindukan)
- taratak (rumah kecil dari bambu)
- tarok (kain dari kulit kayu, goni/karung)
- tarompa (sandal)
- tasakek (untuk perahu: kandas, untuk makanan: tersumbat di kerongkongan)
- tasalek (tersembunyi)
- tasirok (kaget, terangsang)
- tasuruak (tersembunyi)
- tasuruik (merajuk)
- tatak (potong hampir menyiku)
- tataruang (dari tertarung, artinya tersandung)
- tateh (menggunting/memotong, bisa juga berarti menetaskan telur)
- tatiang,manatiang (mengangkat gelas/cangkir/wadah lain berisi air atau minyak)
- tele (kurang waras, suka bertindak konyol)
- tengkak (pincang)
- tenong (baskom, panci)
- tirih (tiris, bocor)
- toncik (tendangan dipantat)
- tu (itu)
- tuga (tendang, menendang)
- tun, nantun (lih. tu)
- tundo (doromg, tendang, menendang)
- tukiak (batu api atau geretan api)
- tukuak (tambah)
- tumbok (tambal untuk baju/pakaian)
- tumpalak (amprok, memaki atau minta pembuktian atas hinaan atau fitnah)
- tundo (dari tunda, berarti menerjang dengan kaki kearah depan)
- turiah (gores)

- uda (panggilan pada kakak laki-laki secara umum diseluruh Minang)
- udo (tak bergelar dialek Pariaman, bisa juga berarti uda untuk dialek Padang Kota)
- ulik, maulik (memeluk sambil tidur)
- uni, uniang (panggilan pada kakak perempuan)
- unjuik (sejenis ransel kain dibawa dipunggung)
- upek, maupek (umpatan, mengeluarkan ucapan perasaan dirugikan)
- urang mudo (sahabat mempelai pria yang menemaninya saat pertama kerumah istrinya)
- urang salapan (delapan orang yang ditugaskan sebagai panitia inti dalam perhelatan)
- urek (dari urat, berarti 1. urat 2. akar pohon)
- ustano (istana)
- uwai (bibi, ibu)

- wa-akau (kamu kepada perempuan)
- wa-ang (kamu kepada lelaki)
- we-e (dia, kamu)

- yang (singkatan sayang, panggilan kesayangan)
- yuang (singkatan buyuang, anak laki-laki)

Coba artikan cerita singkat ini:
Si Uma makan di lapau
Padati si Uma dimuko
A dalam padati tu?
Timbakau Sutan Malano
Ka dikirim ka Limo Koto



3.4 Kumpulan Idiom, Pantun Nasihat dan Pepatah Minang:

Arti, Maksud dan Pengertiannya.

Catatan:

Idiom, pantun dan pepatah yang disajikan dibawah ini, sebagian telah masuk dalam kepustakaan dan sastra Indonesia. Namun karena semua itu berasal dari bahasa dan budaya Minang yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, penulis tetap menuliskannya dalam bentuk asli bahasa Minang sebagai penggambaran filsafah asli budaya Minang.

Adaik ba sandi sarak, sarak ba sandi kitabullah
Arti harafiah: Adat bersendi agama, agama bersendi Al Qur’an.
Pengertian : Adat (harus) sesuai dengan ajaran agama, agama (harus) sesuai Al Qur’an.
Perlu penjelasan disini, bahwa yang dimaksud dengan “adat sesuai ajaran agama” adalah suatu pesan agar adat yang bersifat jahiliah yang dulu (mungkin- sebelum Islam menjadi agama Kerajaan) ada, dibuang. Namun adat “matriarchy” termasuk warisan tanah pusaka-suku tidak boleh diubah.

Adaik manurun, sarak mandaki
Arti harafiah: Adat menurun, sarak mendaki
Pengertian : Adat disebarkan di daerah Minangkabau dari daratan/dataran tinggi turun ke dataran rendah di pesisir, agama disebarkan dari pesisir naik ke daratan

Aie nyo janiah ikan nyo jinak
Arti harafiah: Airnya jernih, ikannya jinak
Pengertian : Dalam menyelesaikan persoalan dengan niat baik, harus dilakukan secara
transparan dan terbuka sehingga dapat diterima secara umum.

Alam takambang jadi guru
Arti harafiah: Alam semesta dijadikan guru
Pengertian : Mempelajari dan mecontoh filsafat alam dalam memecahkan masalah.

Alun bakilek alah bakalam
Arti harafiah: Belum berkilat sudah gelap
Pengertian : Langsung mengerti maksud dan tujuan seseorang baik dari dari gerak fisiknya ataupun dari kata-kata awal yang diucapkannya.

Alun pai alah pulang
Arti harafiah: Belum pergi sudah pulang
Pengertian : Orang yang disuruh mengerjakan sesuatu langsung membantah dengan alasan yang dikarang seolah sudah gagal sebelumnya.

(Kaluak paku asam balimbiang, tampuruang dilenggang-lenggangkan)
Anak dipangku kamanakan dijinjiang, urang kampuang dipatenggangkan

Arti harafiah: Anak dipangku, kemenakan dijinjing, orang kampung dihormati.
Pengertian : Dalam keluarga, prioritas utama adalah menyayangi anak dan memikul beban kemenakan, namun masyarakat sekitar harus dihormati

Anak surang mande batujuah
Arti harafiah: Anak satu orang, ibunya ada tujuh orang
Pengertian : Mande dalam bahasa Minang bukan hanya berarti ibu kandung, tetapi termasuk bibi yaitu saudara perempuan dari ibu. Dalam adat, semuanya disebut mande dan semuanya menyayangi si anak sebagai anak kandung. Jadi menurut idiom ini, si anak menjadi tumpahan kasih sayang dari banyak ibu dan bibi.

Anggang lalu, ata jatuah (mati manimpo anak rajo).
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya
Arti harafiah: Burung enggang lewat, atal (ranting kayu) jatuh (menimpa mati anak raja).
Pengertian : Suatu petaka terjadi kebetulan, namun dikaitkan dengan sesuatu yang sesungguhnya bukan penyebabnya.

Angek-angek cirik ayam
Arti harafiah: Panas-panas tai ayam, hanya sebentar langsung dingin
Pengertian : Semangat menggelora tapi hanya sesaat, langsung redup.

Anjiang manggonggong, kapilah (ba)lalu
Arti harafiah: Anjing menggonggong, kafilah berlalu
Pengertian : Orang yang tidak memperdulikan nasihat atau teguran orang lain, terus saja menjalankan misi atau rencananya.

Anjiang manggonggong ndak ka manggigik, harimau mangaum ndak ka manarakam
Arti harafiah: Anjing menggonggong takkan menggigit, harimau mengaum takkan menerkam
Pengertian : Orang yang sesumbar mengancam, biasanya tidak berbahaya, justru yang diam-diam lebih berbahaya.

Ayam hitam tarabang malam, inggok di kayu marapalam
Arti harafiah: Ayam hitam terbang malam, hinggap di pohon mempelam.
Pengertian : Semua langkah rahasia dan tak diketahui oleh pihak lain – biasanya sebagai ungkapan bagi orang yang bermaksud jahat.

Ayam sikua musang kok banyak
Arti harafiah: Ayam seekor, takut dimangsa oleh banyak musang.
Pengertian : (Cinta)Anak gadis yang diperebutkan banyak pemuda – biasanya sebagai ungkapan kekhawatiran dari pemuda idamannya.

Baburu ka padang data, dapek ruso balang kaki.
Baguru kapalang aja, macam bungo kambang tak jadi.
Arti harafiah: Berburu ke tanah yang rata, mendapat rusa berkaki belang. Berguru kepalang diajar, bagai bunga tak jadi mekar
Pengertian : Belajar yang tanggung-tanggung, belum mahir sudah berhenti, akibatnya tak cukup mengerti dalam mempraktekkannya.

Bacamin ka kubangan tingga
Arti harafiah: Bercermin ke kubangan (kerbau) yang sudah tak dipakai (kerbau) lagi
Pengertian : Orang yang mengaku-ngaku cantik atau ganteng (padahal tidak) disuruh pergi bercermin ke kubangan terpencil. Kubangan yang tak dipakai lagi mengandung air yang jernih dipermukaannya dan dapat dipakai untuk bercermin. Maksudnya merendahkan orang itu yang dianggap tak pernah bercermin atau tak mampu membeli cermin.

Bakarek rotan
Arti harafiah: Terpotong seperti rotan
Pengertian : Tak dapat disambung lagi. Idiom ini unuk menyatakan putusnya hubungan keluarga yang tak mungkin bisa diperbaiki.
Idiom yang sama pengertiannya: Ratak batu (lihat dibawah).

Bak makan buah simalakamo, dimakan mati ayah ndak dimakan mati induak
Arti harafiah: Bagai makan buah si malakama, dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu
Pengertian  :  Berada pada pilihan sulit, pilihan manapun berisiko buruk

Bak mamakai kain singkek, diangkek tampak paho diturunkan tampak pusek
Arti harafiah: Bagai memakai kain pendek, diangkat keatas tampak paha, diturunkan
tampak pusar
Pengertian : Orang yang sudah ketahuan aibnya masih berusaha menutup-nutupi malu, namun tak mungkin berhasil.

Bak tali bapilin tigo
Arti harafiah: Seperti tali berjalin tiga
Pengertian : Ikatan (keluarga atau teman) yang dianggap sangat erat.

Ba-rajo dihati ba-sutan dimato
Arti harafiah: Menganggap raja kepada (di) hati, bersutan (menghormati) mata sendiri.
Pengertian : Berbuat sesuka hati, menganggap diri sendiri yang benar.

Baralek gadang
Arti harafiah: Perhelatan/pesta besar
Pengertian : Pesta perkawinan yang mewah dan meriah, namun dapat juga berarti pesta
pemberian/pengangkatan gelar datuk suku.

Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang
Arti harafiah: Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Pengertian : Sama-sama merasakan dan memikul beban dan tanggung jawab (Lihat: Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun).

Barakik-rakik kahulu, baranang-ranang ka tapian
Basakik-sakik dahulu, basanang-sanang kamudian
Arti harafiah: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Pengertian : Sesuai arti harafiah.

Baurek baaka
Arti harafiah: Berurat berakar
Pengertian : Sudah bersatu dan melebur kedalam lingkungan atau kelompok tertentu, sehingga menguasai kelompoknya dan tak bisa dipisahkan orang luar.

(Bak kabau) Bialah panguih tabanam asa li tanduak makan
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya
Arti harafiah: (Bagai kerbau)Biarlah moncong terbenam (dalam air) asal tanduk mengenai lawan
Pengertian : Sedikit merendahkan diri tak mengapa, asal bisa meraih keuntungan.

Boco aluih
Arti harafiah: Bocor halus
Pengertian : Agak terganggu syaraf, senewen.

Bugih lamo
Arti harafiah: Bugis (kain sarung buatan Bugis/Makassar) yang lama.
Pengertian : Istri yang dulu (yang sudah diceraikan) atau pacar lama (yang telah putus).

Bukan salah bundo manganduang, (hanyolah badan nan buruak pinto)
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya.
Arti harafiah: Bukan salah ibu mengandung, (hanya badan yang bernasib buruk)
Pengertian : Sesuai arti harafiah.

Bulek lah buliah digolongkan, picak lak buliah dilayangkan
Arti harafiah: Bulat sudah bisa digelondongkan, pipih sudah bisa dilayangkan.
Pengertian: Keadaan dimana permusyawatan telah mencapai kesepakatan.

Bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mupakaik
Arti harafiah: Bulat air oleh pembuluh (pipa bambu), bulat kata oleh mufakat.
Pengertian : Pernyataan pemimpin adat sebelum mengambil keputusan sesuai artinya.

Cadiak padusi malabuah kan, (urang mudo manyalasaikan)
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya.
Arti harafiah: Perselisihan antar wanita (biasanya) merupakan awal perselisihan.
Pengertian : Jangan biasakan wanita bergosip, karena dapat menimbulkan petaka.

Cakak abih silek takana
Arti harafiah: Perkelahian sudah selesai baru ingat cara bersilat
Pengertian : Setelah penyelesaian masalah merugikan, baru ingat cara yang benar.

Calak-calak ganti asah
Arti harafiah: Poles-poles seakan mengasah (pisau).
Pengertian : Memanfaatkan (cinta) seseorang sebagai cadangan atau hiburan saja.

Condong ka arah tabang angin
Arti harafiah: Miring sesuai arah tiupan angin.
Pengertian : Menyesuaikan pendapat dengan pendapat umum yang belum tentu benar.

Cubo-cubo mananam mumbang, kalau tumbuah suntiang nagari
Arti harafiah: Mencoba menanam putik kelapa, bila tumbuh jadi kebanggaan Nagari.
Pengertian : Melakukan usaha yang kelihatannya hampir tak mungkin berhasil.

Dapek pinjaik ilang ladiang
Arti harafiah: Dapat jarum penjahit, kehilangan golok.
Pengertian : Dapat keuntungan kecil sekali, namun rugi yang diderita jauh lebih besar.

Dapek pisang takubak
Arti harafiah: Dapat pisang (sudah) terkupas.
Pengertian : Tanpa kerja keras, langsung dapat keuntungan atau barang siap pakai.

Dapua lai barasok
Arti harafiah: Dapur masih berasap.
Pengertian : Ekonomi rumah tangga masih mencukupi kebutuhan makan minum.

Dari pado baputiah mato, labiah elok baputiah tulang
Arti harafiah: Dari pada ber-putih mata, lebih baik ber-putih tulang.
Pengertian : Dari pada menanggung malu berkepanjangan, lebih baik mati bela diri.

Datang tampak muko, pulang tampak pungguang
Arti harafiah: Datang tampak muka, pergi tampak punggung.
Pengertian : Harus terus terang menyelesaikan masalah, jangan diam-diam menghindar.

Dek hati mati, dek mato buto
Arti harafiah: Oleh karena (keras) hati jadi mati, oleh karena (keinginan) mata jadi buta.
Pengertian : Kemungkinan buruk yang diingatkan pada seseorang yang keras kepala.

Digantuang ndak batali
Arti harafiah: Digantung tanpa tali
Pengertian : Istri yang tidak diceraikan oleh suaminya, namun tidak diberi kabar, tidak dipulangi, tidak diberi nafkah.

Dima ilalang abieh, disitu api padam
Arti harafiah: Dimana (rumput) lalang habis, disaat itu api padam.
Pengertian : Siap berjuang untuk memenuhi kebutuhan (ekonomi) sekuat tenaga sampai batas kesanggupan.

Dima rantiang dipatahkan, disitu aie disauak (adaik ditiru limbago dipakai)
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya
Arti harafiah: Dimana ranting (kayu) dipatahkan (biasanya untuk menyalakan api waktu
memasak, disitu air ditimba (adat dicontoh aturan pemerintah dipakai)
Pengertian : Bila tinggal di negeri orang, ikuti adat dan aturan setempat

Gabak di hulu tando ka hujan, cewang di langik tando ka paneh
Arti harafiah: Awan hitam di hulu tanda akan hujan, terang dilangit tanda akan panas
Pengertian : Langsung mengerti maksud dan tujuan seseorang baik dari dari gerak fisiknya ataupun dari kata-kata awal yang diucapkannya. Ungkapan yang sepadan artinya: Alun bakilek alah bakalam (lihat di atas).

Gadih jolong basubang
Arti harafiah: Anak gadis baru mulai memakai anting-anting.
Pengertian : Orang yang baru mulai mendapat sesuatu, selalu ingin membanggakannya.

Gigi tangga rawan murah, awak tuo gadih bamusim
Arti harafiah: Gigi copot (karena tua) tulang rawan (bagian daging yang enak) murah, diri tua anak-anak gadis (cantik) makin banyak.
Pengertian : Sudah tua tak berdaya, terlihat segala kenikmatan dunia kelihatannya makin mudah didapat. (Ini gambaran kekecewaan seseorang).

Iduik ba aka, mati ba iman
Arti harafiah: Hidup berakal, mati beriman.
Pengertian : Orang tidak boleh menyerah untuk hidup dan harus berfikir menyelesaikan persoalan, dan kalaupun mati harus dalam keadaan beriman Islam.

Ilang gali dek galitiak
Arti harafiah: Hilang (rasa) geli karena digelitik.
Pengertian : Hal yang tidak pantas bisa jadi nyaman dilakukan karena terus dicoba.

Indak ado alang, bilalang jadi alang
Arti harafiah: Tidak ada elang, belalang menjadi elang.
Pengertian : Bila tidak ada saudagar (pedagang besar), pedagang kecil bisa jadi besar. Dapat juga diartikan, bila tidak ada pejabat tinggi, pejabat rendah berkuasa.

Indak kayu janjang di kapiang, indak ameh bungka diasah
Arti harafiah: Tidak ada kayu, tangga kayu dijadikan kayu api, tak ada emas batu diasah.
Pengertian : Segala harta yang ada kalau perlu dimanfaatkan bila diperlukan untuk hal yang sangat penting

Ingek sabalun kanai, kulimaik sabalun abih
Arti harafiah: Ingat sebelum kena, kalimat sebelum habis.
Pengertian : Berpikir sebelum mengerjakan sesuatu agar tidak rugi atau menyesal.

Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun
Arti harafiah: Ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun.
Pengertian : Sama-sama merasakan dan memikul beban (Lihat: Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang).

Kacak langan lah bak langan
Arti harafiah: Kecak lengan sudah (terasa) seperti lengan.
Pengertian : Merasa sudah dewasa dan kokoh, menjadi sombong.

Kada diawak, pakuang diurang, nan taraso kada labiah sakik
Arti harafiah: Kudis pada diri sendiri, borok pada orang lain, terasa kudis lebih menyakitkan.
Pengertian : Derita yang kecil pada diri sendiri terasa lebih menyakitkan dari derita orang lain.

Kamanakan barajo kapado mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka kabanaran, kabanaran tagak dengan sendirinyo.
Arti harafiah: Kemenakan berraja kepada mamak, mamak berraja kepada penghulu, penghulu berraja kepada mufakat, mufakat berraja kepada kebenaran.
Pengertian : Jenjang keputusan dalam adat dengan kedudukan tertinggi adalah mufakat untuk mendapatkan kebenaran.

Karambia cungkia
Arti harafiah: Kelapa congkel
Pengertian : Kopra.

Kato mandaki, kato manurun, kato malereang, kato mandata
Arti harafiah: Kata mendaki, kata menurun, kata miring kebawah, kata mendatar.
Pengertian : Katamendaki adalah cara berbicara kepada orang yang lebih tinggi kedudukan sosialnya baik dalam keluarga seperti anak kepada ayah/ibu, kemenakan kepada mamak misalnya atau rakyat kepada raja/bangsawan.
Kata menurun, cara berbicara ayah/ibu kepada anak atau raja kepada rakyat
Kata miring kebawah, cara berbicara kepada yang tingkat sosialnya agak dibawah tapi tidak langsung, misalnya mamak kepada kemenakan.
Kata mendatar, cara berbicara kepada orang yang setingkat kedudukannya.


Ketek banamo, gadang bagala
Arti harafiah: Kecil bernama, besar bergelar
Pengertian : Seseorang yang masih belum menikah dipanggil nama kecilnya, bila sudah besar (dengan pengertian telah menikah), diberi atau dipanggil gelarnya (menurut adat).

Kilek baliuang lah ka kaki
Arti harafiah: Kilat tombak telah terlihat menuju kaki
Pengertian : Sadar akan bahaya yang segera datang dari ancaman kata-kata seterunya.

Kok anak pai ka pakan, iu bali balanak bali, ikan panjang bali dahulu
Kok anak pai bajalan, ibu cari dunsanak cari, induak samang cari dahulu

Arti harafiah: Kalau anak pergi ke pasar, beli ikan hiu, beli ikan belanak, dahulukan membeli ikan panjang. Kalau anak pergi merantau, cari ibu (angkat), keluarga (angkat), utamakan cari induk semang.
Pengertian : Kalau pergi merantau, bina hubungan yang baik dengan sekitar seakan menjadi keluarga sendiri, namun harus cari pekerjaan untuk nafkah hidup.

Kok bulek bulieh di golongkan, kok pipih bulieh dilayangkan
Arti harafiah: Kalau bulat dapat digelindingkan, kalau pipih dapat dilayangkan
Pengertian : Kalau mufakat sudah bulat dan tak ada lagi yang keberatan, keputusan dapat dibuat. (Ucapan pemimpin adat sebelum mengambil keputusan).

Kok indak ado barado, tak kan tampuo basarang randah
Arti harafiah: Kalau tidak ada alasan, tak mungkin burung tempua bersarang rendah.
Pengertian : Orang yang cerdik tapi lemah tak akan membiarkan dirinya berada ditempat yang berbahaya, kecuali ada pelindungnya yang kuat.
Kok kayu di rimbo samo tinggi, kama angin nan ka lalu
Arti harafiah: Kalau kayu di hutan sama tinggi, kemana angin bisa lewat
Pengertian : Kemampuan tiap anggota masyarakat tentulah tidak sama, karena bila sama, tak ada lagi yang mau disuruh atau diperintah, semua mau jadi yang menyuruh atau yang memerintah.

Kok lah tapijak tanah tapi
Arti harafiah: Kalau sudah sampai ke tepi (seberang laut)
Pengertian : Kalau sudah berhasil mendapatkan kecukupan materi dalam kehidupan.

Kulik kuniang lansek, pipi bak pauah dilayang, dagu bak labah bagantuang, jari bak duri landak, rambuik mayang ta urai, bibia asam sa uleh, mato bak sirauik jatuah.
Arti harafiah: Kulit kuning langsat, pipi bagai (mangga) pauh diiris, dagu bagai lebah bergantung, jari bagai duri landak, rambut bagai mayang (bunga kelapa) terurai, bibir seperti asam se-ulas, (pandangan) mata tajam bagai siraut (sejenis senjata tajam) jatuh.
Pengertian : Gambaran kecantikan perempuan menurut selera masyarakat zaman dulu.

Lah dapek badia balansa, baulu ameh nan baturiah
Lah dapek mangko ka manyasa, daulu cameh ndak ka buliah

Arti harafiah: Telah dapat senapan lantakan, bergagang emas berukir. Telah dapat baru menyesal, dulu takut tidak memperolehnya.
Pengertian : Orang yang dulunya sangat berusaha mendapatkan idamannya, namun setelah mendapatkannya justru menyesal, karena ternyata tak memuaskan.

Langkah suok
Arti harafiah: Langkah kanan.
Pengertian : Kedatangan seseorang yang tepat waktunya, memberikan keberuntungan.

Lain lubuak lain ikannyo, lain padang lain bilalangnyo
Arti harafiah: Lain palung lain ikannya, lain padang lain belalangnya.
Pengertian : Tiap wilayah punya adat kebiasaannya sendiri.
Maarokkan guntua di langik, aie tapayan dicurahkan
Arti harafiah: Mengharapkan guntur di langit, air di tempayan dibuang
Pengertian: Lihat "Maarokkan punai...dst"

Maarokkan punai tabang tinggi, balam di tangan dilapehkan
Arti harafiah: Mengharapkan (burung) punai yang masih terbang tinggi, (burung) balam ditangan dilepaskan.
Pengertian : Mengharapkan sesuatu hasil besar yang belum pasti, hasil yang kecil tapi pasti didapat ditinggalkan, akhirnya tak dapat apa-apa. Ungkapan yang sepadan artinya: "Maarokkan guntua dilangik, aie tampayan dicurahkan".

Macam aie jatuh ka pasia
Arti harafiah: Seperti air jatuh ke pasir.
Pengertian : Hilang tanpa bekas. Ungkapan yang sepadan artinya: Macam batu jatuah ka lubuak.

Macam anak ayam ka ilangan induak
Arti harafiah: Bagai anak ayam kehilangan induk.
Pengertian : Kehilangan pemimpin, orang bisa hilang akal menyelesaikan persoalan.

Macam aua jo tabiang
Arti harafiah: Macam (pohon) bambu dengan tebing (tanah yang curam).
Pengertian : Saling bersandar, bahu membahu, saling mendukung.

Macam batu jatuah ka lubuak
Arti harafiah: Seperti batu jatuh ke palung (lubang sungai yang dalam).
Pengertian : Hilang tanpa bekas. Ungkapan yang sepadan artinya: Macam aie jatuh ka pasia.

Macam manggado anjiang
Arti harafiah: Seperti melempar anjing. (Biasanya menggertak saja dengan duduk).
Pengertian : Lebih dahulu menyerang (dengan kata-kata), sebelum orang menghujat.

Macam urang pakak sanogari
Arti harafiah: Seperti dinegeri orang tuli (semua orang tuli).
Pengertian : Setiap orang berbicara tidak saling mendengarkan, sehingga jawaban atas pertanyaan satu dengan yang lain saling tidak mengena.

Maelo pangkua ka dado
Arti harafiah: Menghela (menarik) cangkul ke dada.
Pengertian : Salah mengartikan kata-kata orang, menganggap ancaman pada dirinya.

Makanan anggang indak ka dimakan pipik
Arti harafiah: Makanan (burung) enggang tak akan dimakan (burung) pipit.
Pengertian : Orang tidak akan menguasai sesuatu yang tidak sesuai kemampuannya.

Mambangkik tareh tarandam
Arti harafiah: Membangkitkan (semangat) sejarah yang terpendam
Pengertian : Berusaha mencapai kejayaan masa lalu yang pernah dicapai orang tua, keluarga ataupun suku.

Manangguak di aie karuah
Arti harafiah: Menangguk (ikan) di air keruh.
Pengertian : Mencari kesempatan (untung) dalam suasana kacau.

Manapuak aie di dulang
Arti harafiah: Menepuk air diatas talam (percikan air tentu mengenai muka sendiri).
Pengertian : Membuka aib saudara atau keluarga sendiri, justru mebuat malu dirinya.

Manatiang minyak panuah
Arti harafiah: Mengangkat (wadah berisi) minyak penuh.
Pengertian : Berhati-hati, menjaga perasaan orang.

Mancik sikua panggado saratuih
Arti harafiah: Tikus seekor, gada (alat melempar seperti batu, tongkat dsb.) seratus.
Pengertian : Pengeroyokan orang ramai terhadap seseorang, baik secara fisik maupun secara verbal (dalam debat kata-kata).

Mangango sabalun mangecek
Arti harafiah: Menganga sebelum bicara.
Pengertian : Berfikir sebelum berbicara agar kat-kata yang diucapkan sopan dan baik.

Mangguntiang dalam lipektan
Arti harafiah: Menggunting dalam lipatan.
Pengertian : Curang terhadap teman sendiri yang sudah saling mempercayai.

Manjilek aie liua
Arti harafiah: Menjilat air liur.
Pengertian : Menarik ucapan atau ikrar sebelumnya (karena sadar akan kekeliruan), walaupun harus menanggung malu.

Minyak abih samba tak lamak
Arti harafiah: Minyak habis sambal tak enak.
Pengertian : Sudah menghabiskan banyak biaya, ternyata hasil kerja tak sesuai harapan.

Nan lumpuah paalau ayam, nan buto paambuih lasuang
Arti harafiah: Yang lumpuh penghalau ayam, yang buta peniup (ampas) lesung. Lesung adalah kayu yang dibuat rongga untuk tempat menumbuk padi
Pengertian : Semua orang baik yang pintar maupun yang bodoh, yang kuat maupun yang lemah, yang kaya maupun yang miskin tetap berguna.

Nan tuo datang batungkek, nan buto datang batuntun
Arti harafiah: Yang tua datang bertongkat, yang buta datang dituntun.
Pengertian : Semua orang tanpa kecuali (harus) datang untuk mendengar putusan raja.

Ndak kayu janjang dikapiang, ndak ameh bungka diasah
Arti harafiah: Tak ada kayu tangga kayu dipotong (untuk kayu api), tak ada emas batu diasah.
Pengertian : Semua sumber daya harus dipergunakan bila diperlukan untuk memikul beban keluarga.

Paneh tampaik balinduang, hujan tampaik bataduah
Ka pai tampaik batanyo, ka pulang tampaik ba barito
Kusuik ka manyalasaikan, ilang ka mancari

Arti harafiah: Bila (hari) panas menjadi tempat berlindung, bila hujan menjadi tempat berteduh. Jika akan bepergian menjadi tempat bertanya, bila mau pulang menjadi tempat bercerita. Kusut (kesulitan-dialek Minang) akan menyelesaikan, bila kehilangan akan turut mencarikan.
Pengertian : Semua idiom diatas adalah syarat terpilihnya seorang pemimpin atau datuk dalam masyarakat Minang.

Paneh satahun ilang dek ujan sahari
Arti harafiah: Panas setahun hapus oleh hujan sehari.
Pengertian : Perbuatan baik yang begitu sering dan banyak dilakukan seseorang dengan mudah dilupakan oleh orang lain walau hanya sekali tidak memenuhi harapan orang lain tersebut.

Pulau pandan jauah ditangah, dibaliak pulau angso duo
Hancua badan dikanduang tanah, budi baiak takana juo

Arti harafiah: Pulau Pandan jauh ditengah, dibalik Pulau Angsa Dua. Hancur badan dikandung tanah, budi baik teringat selalu.
Pengertian : Seseorang yang bermoral baik, seumur hidup tak akan melupakan jasa baik orang lain kepadadirinya.

Pungguang ladiang kalau diasah taruih, tajam juo
Arti harafiah: Bagian belakang golok (yang rebal tumpul) kalau diasah terus akan tajam juga
Pengertian : Orang yang bodoh sekalipun kalau diajar/belajar terus menerus akan pintar juga.

Rajo alim rajo disambah, rajo lalim rajo disanggah
Arti harafiah: Raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah.
Pengertian : Penguasa yang bijaksana akan dihormati, namun penguasa yang kejam akan dilawan (dilanggar perintahnya).

Rami taksiun Pariaman, ba atok sudah ba dindiang balun
Burung lah tampak ka pamenan, jinak sudah di tangan balun

Arti harafiah: Ramai setasiun Pariaman, sudah beratap belum berdinding. Burung untuk mainan anak sudah jinak, namun belum tertangkap.
Pengertian : Seseorang yang sudah mendekati keberhasilan dalam mengejar idamannya
(yang biasanya gadis), namun belum dapat diikat dengan perkawinan.

Rancak di labuah
Arti harafiah: Bagus atau cantik (terlihat) di jalanan.
Pengertian : Orang yang tampak oleh umum berkecukupan, namun sebenarnya miskin.

Raso basuo jo anak mamak
Arti harafiah: Terasa seakan berjumpa dengan anak mamak (lihat Pasal 1.2).
Pengertian : Seperti bertemu tunangan atau pacar.
Catatan : Biasanya kata-kata ini diucapkan kepada teman akrab yang baru bertemu lagi setelah lama tak berjumpa. Dalam adat beberapa wilayah di Minang, sesorang sering dijodohkan dengan anak mamaknya.

Ratik tagak
Arti harafiah: Ratib (salah satu ritual agama, zikir dan tahlil) sambil berdiri.
Pengertian : Ungkapan sindiran pada orang yang sedih sekali, meraung-raung.

Rumah gadang sambilan ruang, salanja kodo nan balari
Arti harafiah: Rumah besar sembilan ruang, sepanjang sejurus lari kuda.
Pengertian : Rumah yang besar dan panjang, biasanya menggambarkan rumah bangsawan atau istana Minangkabau.

Rumah sudah tokok pahek babunyi
Arti harafiah: Rumah selesai, palu dan pahat (baru) berbunyi.
Pengertian : Suatu keputusan bersama telah terlaksanakan, ternyata ada lagi keberatan.

Sa ciok bak ayam, sa danciang bak basi
Arti harafiah: Sama ciap (suara anak ayam) bagai ayam, sama dencing bagai suara besi.
Pengertian : Gambaran suatu masyarakat atau keluarga yang selalu mufakat.

Saiyo, sakato, samalu
Arti harfiah : Seiya, sekata, semalu
Pengertian : Gambaran orang bersaudara atau keluarga, selalu bermufakat, dan bila ada yang dapat malu atau aib, seluruh keluarga merasa malu. Bila tidak semalu artinya tak diakui lagi sebagai keluarga.

Sajauah-jauah tabang bangau (pulangnnyo ka kubangan juo)
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya
Arti harafiah: Sejauh-jauh bangau terbang (pulangnya ke kubangan juga).
Pengertian : Seseorang yang melanglang buana selalu (akan rindu) pulang ke kampung halamannya.

Sakali aia gadang, sakali tapian barubah
Arti harafiah: Se tiapkali air banjir, tempat mandi akan ikut berubah.
Pengertian: Setiap perubahan cara pandang, selalu diikuti perubahan kebiasaan.

Sakali marangkuah dayuang duo-tigo pulau talampau (sakali mambukak puro duo-tigo utang tabayie)
Catatan : Bagian yang didalam tanda kurung sering tidak dibaca lagi karena pendengar dianggap telah tahu dengan sendirinya
Arti harafiah: Sekali menggerakkan dayung, laju perahu melewati dua sampai tiga pulau (sekali membuka dompet, dua sampai tiga hutang terbayar)
Pengertian : Dalam menyelesaikan suatu perkara, diharapkan sekaligus menyelesaikan perkara-perkara lain yang termasuk lingkup perkara.

Sapandai-pandai tupai malompek, sasakali jatuah juo
Arti harafiah: Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali jatuh juga.
Pengertian : Sepandai-pandai orang menipu, suatu saat akan ketahuan juga.

Sapuluah jari sabaleh jo kapalo
Arti harafiah: Sepuluh jari, sebelas dengan kepala.
Pengertian : Orang yang memohon pengertian atau mohon maaf kepada seseorang dengan cara mengucapkan ungkapan itu sambil menyusun jari-jarinya disamping kepala.

Satali tigo uang
Arti harafiah: Setali (setalen) sama dengan tiga uang (Note:uang adalah satuan uang jaman dulu, setalen adalah dua puluh lima sen).
Pengertian : Dua hal yang dibicarakan sama saja.

Satinggi-tinggi tabang bangau, pulangnyo ka kubangan juo
Arti harafiah: Setinggi-tinggi terbang bangau, pulangnya ke kubangan jua.
Pengertian : Sejauh manapun seseorang meninggalkan habitatnya, suatu waktu ia pasti kembali.

Sayang di anak di patangih sayang di kampuang ditinggakan
Arti harafiah: Sayang kepada anak dicandai sampai menangis, sayang kepada kampung ditinggalkan.
Pengertian : Orang Minang membiasakan diri merantau, kalau telah berhasil (materi) baru pulang kekampungnya sambil memberi oleh-oleh buat familinya.

Sikucapang sikucapeh, saikua tabang sikua lapeh
Arti harafiah: Seekor terbang, seekor lepas.
Pengertian : Tidak mendapatkan hasil apa-apa karena mengejar sesuatu tanpa taktik.

Sitawa sidingin
Arti harafiah: Penawar pendingin
Pengertian : Penawar rasa sakit, pereda rasa demam. Biasanya kata-kata kiasan untuk anak semata wayang atau harta utama (tanah) satu-satunya.

Tagak samo tinggi, duduak samo randah
Arti harafiah: Tegak sama tinggi, duduk sama rendah.
Pengertian : Kesetaraan dalam perundingan atau memiliki hak bersama.

Takuik di hantu lari ka pandam
Arti harafiah: Takut kepada hantu, lari ke pekuburan (yang sering digambarkan dengan
tempat yang banyak hantunya).
Pengertian : Karena takut menghadapi suatu masalah, malah membuat masalah yang lebih rumit.

Taratau madang dihulu, babuah babungo balun
Marantau bujang daulu, dirumah paguno balun

Arti harafiah: (Pohon) taratau dan madang ada di hulu, belum berbuah belum berbunga.
Merantaulah anak bujang dulu, karena di rumah belum bermanfaat.
Pengertian : Orang Minang menganjurkan para pemudanya merantau mencari nafkah dan setelah berhasil diharapkan membantu famili di kampung.

Tataruang kaki inai pampasannyo, tataruang kato ameh tabusannyo.
Arti harafiah: Tersandung kaki inai (daun pacar cina) obatnya, tersandung kata, emas jadi tebusannya.
Pengertian : Ucapan untuk menyatakan penyesalan atas sesuatu kesalahan dengan niat mengganti rugi atas kesalahan itu.

Tibo dilangik taburito, tibo dibumi jadi kaba
Arti harafiah: Tiba di langit jadi berita, tiba di bumi jadi cerita.
Pengertian : Kalimat pembukaan atas suatu cerita dongeng atau legenda.

Tibo di paruik dikampihkan, tibo di mato dipiciangkan
Arti harafiah: Kena perut dikempiskan, kena mata dipicingkan.
Pengertian : Tindakan seseorang yang tidak adil, kalau mengenai saudaranya sendiri dia pura-pura tak melihat kesalahannya.

Tinggi cangkuang dari tagak
Arti harafiah: Tinggi jongkok dari berdiri.
Pengertian : Sindiran hinaan kepada seseorang, karena yang seperti itu adalah anjing.

Tungku tigo sajarangan
Arti harafiah: Tiga tungku tempat memasak air.
Pengertian : Ungkapan adat yang berarti tiga kekuasaan: raja, adat dan agama.
Bisa juga diartikan tiga komponen pembentuk keluarga: dunsanak, bako dan anak pisang (lihat Pasal 1.2).

Ubek jariah palarai damam
Arti harafiah: Obat letih pencegah demam.
Pengertian : Biasanya diumpamakan kepada barang milik satu-satunya, misalnya anak tunggal
atau sepetak sawah yang tak begitu luas.

Walau diagiah makan di piriang ameh, ayam birugo larinyo ka hutan juo
Arti harafiah: Walau diberi makan di piring emas, ayam hutan tetap balik ke hutan.
Pengertian : Sulit mengubah sifat dan kebiasaan seseorang, walaupun dengan bujukan untuk kehidupan yang lebih baik.




3.5. Syair dan Nyanyian Legendaris dari Minang

Bukan Salah Bundo Manganduang

Anak ayam dirumpun buluah
Duo tigo baru manateh
Dalam aia dalam aia badan bapaluah
Kononlah pulo ditimpo paneh

Anak urang kampuang tarandam
Pasa usang bali kalikih
Dima dagang dima dagang indak ka karam
Layia lah usang biduak pun tirih

Urang mudo 'nak pagaruyuang
Lah nak lalu ka Sawahlunto
Bukan salah bukan salah bundo manganduang
Hanyolah badan nan buruak pinto.


Andam Oi

Bukiktinggi koto rang Agam lah andam oi
Mandaki janjang ampek puluah
Basimpang jalan ka Malalak
Sakik sagadang bijo bayam lah andam oi
Tapi saraso ka mambunuah
Lai diubek indak cegak

Bukan denai takuik mandi lah andam oi
Denai nan takuik basah basah
Mandi ka lubuak pariangan
Bukan denai takuik mati lah andam oi
Denai nan takuik patah patah
Badan nan sadang batunangan

Andam, oi andam
Andam oi andam oi andam oi


Laruik Sanjo
Mandi ka lubuak mandalian 2x
Udang disangko tali tali
Ulah dek untuang parasaian 2x
Patang disangko pagi hari
Ondeh, ondeh lah laruik sanjo

Urang Padang mandi ka gurun 2x
Mandi batimbo bungo lado
Hari patang matoari turun 2x
Dagang baurai aia mato
Ondeh. ondeh lah laruik sanjo


Mati syahid
(
Lagu perjuangan Hizbullah di Sumatera Barat tahun 1947 waktu Agresi I)

Suara hizbullah laki-laki:
Selamat tinggal ibuku
Selamat tinggal, selamat tinggal
Barangkali takkan pulang
Kerna berjuang
Berjuang mempertahankan agama dan bangsa

Mencari syahid dimedan perang
Mencari syahid diujung pedang
Mencari syahid, dikota Padang

Suara hizbullah perempuan:
Selamat jalan anakku
Selamat jalan, selamat jalan
Barangkali takkan pulang
Kerna berjuang
Berjuang mempertahankan agama dan bangsa

Mencari syahid dengan nama Allah
Mencari syahid dengan nama Allah
Mencari syahid, dengan nama Allah


Ayam Den Lapeh
Luruihlah jalan Payakumbuah
Babelok jalan ka biaro
Dima hati indak ka rusuah
Ayam den lapeh
Oi, oi ... ayam den lapeh.

Mandaki jalan Pandai Sikek
Basimpang jalan ka Batipuah
Dima hati indak ka maupek
Awak takicuah
Oi, oi ... ayam den lapeh.

Ref.1:
Sikucapang sikucapeh
Saikua tabang saikua lapeh
Tabanglah juo nan ka rimbo
Oi lah malang juo.

Ref.2:
Pagaruyung jo Batusangka
Tampaik bajalan dek urang Baso
Duduak tamanuang tiok sabanta
Oi, takana juo
Oi, oi ... ayam den lapeh



La Olai
La olai pucuak lansano
Ramo-ramo lah tabang tinggi
Na uwai denai batanyo
Kamanolah si upiak tadi
Ooo uwai, inyo ka pakan Kuraitaji

Kuraitaji pakan sinayan
Urang mudo manggaleh lado
Capek kaki ringan tangan
Namun salero lapeh juo
Ooo uwai, yo baitu dek urang mudo
Ooo uwai, yo baitu dek urang mudo
Ooo uwaiiiiiiii.......


Hari Baransua Pagi
Hari baransua pagi
Murai alah bakicau
Laruik rasonyo hati
Takana ayah bundo adiak sadonyo

Kami sansaro nangko
Indak ka sio-sio
Nak nyo tagak nan bana
Nak takikih sagalo si paniayo

Ref:
Kok bundo mandanga
Bunyi latusan sayup-sayup sampai
Itulah ka ganti
Kato hati manyampaikan salam rindu


Minang Maimbau
Minangkabau, tanah nan den cinto
Pusako bundo, daulunyo
Rumah gadang, nan sambilan ruang
Rangkiang bairik, di halamannyo

Ref:
Bilo den kana
Hati den taibo
Tabayang-bayang
Di ruang mato


Denai Ditinggakan 
Ref:
Saaaaadiaaaaaah, diak sadiah
Denai ditinggakan, ditinggakan

Urang Rao sasek ka dangau
Matiak bungo si daun lado
Denai turuik adiak ka dangau
Nak batamu bamuko-muko

Ref:
Saaaaadiaaaaaah, diak sadiah
Denai ditinggakan, ditinggakan

Limau puruik dari Singgalang
Urang Sariak baladang kacang
Denai turuik adiak ka ladang
Kironyo adiak di ladang urang

Ref:
Saaaaadiaaaaaah, diak sadiah
Denai ditinggakan, ditinggakan

Lompong Sagu
Lompong sagu lompong sagu bagulo lawang
Ditangah tangah ditangah tangah karambia mudo
Sadang katuju saang katuju diambiak urang
Awak juo awak juo kalapeh hawo

Lompong sagu oh sagu bagulo lawang
Lompong sagu oh sagu bagulo lawang

Di Maninjau di Maninjau padi lah masak
Batang kapeh batang kapeh batimba jalan
Hati risau hati risau dibawo galak
Nan bak paneh nan bak paneh manganduang ujan

Lompomg sagu oh sagu bagulo lawang
Lompong sagu oh sagu bagulo lawang