Jumat, 25 September 2009

Dasar-Dasar Tata Bahasa-Bahasa Indonesia

4. Mengenal arti kata dari asal kata
Bahasa Indonesia terbentuk dari induk bahasa Melayu, yang seiring perjalanan waktu diperkaya oleh berbagai bahasa daerah dari seluruh wilayah nusantara. Sebetulnya sebagian kosa kata bahasa Melayu sendiri berasal dari berbagai bahasa asing seperti Cina, Arab, India, Potugis, Belanda dan Inggeris.
Peng”indonesiaan” bahasa-bahasa asing tersebut semula berjalan normal sesuai dialektika bahasa Melayu yang cukup modern pada jamannya. Namun dalam perkembangan teknologi yang makin modern, peng”indonesian” bahasa asing menjadi lebih rumit.
Penterjemahan kata asing sering tidak sejalan dengan pengertian dalam teknologi, sehingga seorang insinyur misalnya, bisa tidak mengerti arti kosa kata dalam tulisan mengenai teknik yang dibuat dalam bahasa Indonesia hasil terjemahan. Ia bisa lebih mengerti apabila ditulis dalam bahasa aslinya misalnya bahasa Inggeris.
Begitu juga dalam bidang-bidang lainnya.
Dalam pengertian kosa kata ada beberapa sumber yang dapat diperhatikan:

Akar kata
Suatu kata yang asli dapat terbentuk dari apa yang disebut akar kata. Akar kata biasanya berupa satu suku kata yang diambil dari sifat yang “sejenis” atau “setara” dalam dialek atau suara Melayu.
Dengan pengertian terhadap akar kata, seorang yang berbahasa ibu bahasa Melayu akan mudah mengerti maksud kata itu, walaupun dibolak balik ataupun huruf hidupnya diganti. Beberapa contoh akar kata dapat diberikan sebagai berikut:
- at , bandingkan kesetaraan kosa kata: kilat, cepat, silat, sikat, lompat.
- ap , bandingkan kesetaraan kosa kata: gelap, sulap, endap, sekap.
- gamang, geming : takut (aslinya takut jatuh).
- morat-marit : hancur/dikalahkan, berantakan.
- luluh-lantak : habis/musnah.
- ling, bandingkan kestaraan kosa kata : guling, galing (goyah, mudah jatuh), giling, (ber)paling.
- lung dan lang, bandingkan kesetaraan gulung, kalung, gelung, gelang
- haru-biru : sangat sedih
- it , bandingkan kesetaraan kosa kata : sulit, pelit, sempit.
- lam , bandingkan kesetaraan kosa kata : malam, kelam, selam, dalam.
- kibar, kobar, debar, dengan pengertian bergelora.
.
Akar kata juga dapat terbentuk dari suara yang dikeluarkan sesuatu, menurut telinga suatu masyarakat. Ayam disebut berkokok karena masyarakat Melayu mendengar suara ayam “kokok”.
Hal yang sama terjadi pada masyarakat Jawa Barat (Sunda), karena mereka mendengar suara ayam “kukuruyuk”, maka dalam bahasa Sunda disebut ayam kukuruyuk. Selain itu dapat diberikan pula :
- meong , suara kucing.
- cicit , suara burung atau suara tikus.
- lenguh , suara sapi atau kerbau.
- embik atau embek , suara kambing.
- aum , suara harimau.
Kosa kata suara-suara diatas adalah menurut pendengaran orang Melayu, menjadi bahasa Indonesia.

Kata asli dan terjemahan
Seperti dijelaskan diatas, sebenarnya sangat sedikit kosa kata yang berasal dari akar kata bahasa di Nusantara. Sebagian besar berasal dari bahasa Arab, Cina, India, Portugis, Spanyol, dan Inggeris. Oleh karena pemakaian kosa kata itu sejalan dengan dialek Melayu yang kemudian menjadi dasar Bahasa Indonesia, tanpa terasa, kosa kata tersebut telah menjadi kosa kata asli Bahasa Indonesia.
Berbeda dengan kosa kata yang diterjemahkan belakangan, karena tidak dipakai dalam budaya Melayu sebelumnya, kosa kata tersebut tetap saja terasa tidak asli. Nah, penterjemahan yang disebut terakhir inilah yang penulis maksud sering tidak sesuai dengan pengertian sunggguhnya. Hal ini lumrah terjadi karena bahasa bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi berkembang bersama dengan bidang budaya lain.
Oleh karena budaya Melayu sebelumnya belum cukup moderen, maka bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia belum cukup moderen, sehingga jumlah kosa katanya tak mampu menunjang perkembangan teknologi moderen. Muncullah terjemahan-terjemahan yang kadang-kadang tak cocok dengan maksud kosa kata itu dalam bahasa aslinya.
.
Penulis berpendapat, lebih baik memakai kosa kata aslinya dalam bahasa asing yang ditulis dengan ejaan bahasa Indonesia dari pada mencari-cari padanan atau terjemahan kedalam bahasa Indonesia. Penterjemahan yang dipaksakan sering membingungkan.
Keuntungan lain dalam memakai kosa kata asli untuk istilah ekonomi, teknik dan sains adalah membiasakan pengguna untuk memakai istilah-istilah yang berlaku secara internasional, sehingga memudahkannya untuk berkomunikasi dalam bidang tersebut secara global.
Cara ini dipraktekkan oleh Malaysia.

Kata yang diciptakan
Seiring dengan perkembangan teknologi, menemukan kosakata asli untuk sesuatu yang baru menjadi sulit. Para pakar menciptakan kosakata tertentu baik berupa singkatan maupun berupa kata baru yang bunyinya mendekati kosakata bahasa asingnya.
Contoh :
rudal sebagai terjemahan “guided missile” adalah singkatan dari peluru kendali;
dampak adalah kata ciptaan, yaitu padanan kata “impact” dalam bahasa Inggeris.

Kata yang digali dari bahasa daerah di Nusantara
Banyak kosakata yang tadinya tidak ada dalam Bahasa Indonesia, diambil dari hasil penelusuran bahasa-bahasa daerah di Nusantara, ada yang sengaja dicari ada pula yang diusulkan oleh anggota masyarakat yang peduli.
.
Ditemukanlah kosakata :
- mantan sebagai pengganti kata “bekas” (pejabat) yang diambil dari suatu bahasa daerah di Sumatera Selatan, contoh: mantan lurah, mantan menteri, mantan presiden dan sebagainya, sebagai pengganti ungkapan bekas lurah, bekas menteri, bekas presiden.
- canggih sebagai terjemahan yang cocok untuk kata “sophisticated”, diambil dari bahasa daerah Jawa.

Kata asing yang ditulis dalam ejaan Bahasa Indonesia, sesuai bunyi aslinya
Pembentukan kosakata dengan cara ini sangat menguntungkan, karena pemakai akan terbiasa mendengar ucapan bahasa asing aslinya, sehinggga memudahkan komunikasi secara global.
Contoh:
- teknologi (technology), tsunami (tsunami), enerji (energy), filosofi (philosophy), kandidat (candidate), stimulus (stimulus – dari kata kerja stimulate), koperasi (cooperation), mikro-hidro (micro-hydro), mekanik (mechanic), mekanis (mechanical), biologi (biology), rotasi (rotation), donasi (donation), dan sangat banyak kata lainnya.
Apabila kata-kata jenis tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan kosakata yang “dipaksakan”, justru dapat mengaburkan artinya yang benar, dan pada tahap tertentu menghambat komunikasi dalam bahasa asing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar