Minggu, 04 April 2010

Teknologi Dan Sifat Sosial Pada Manusia Modern

Selama ribuan tahun manusia selalu berusaha meningkatkan kualitas kehidupan dari masa ke masa. Untuk itu manusia mempelajari dan mempergunakan teknologi. Mulai dari teknologi yang paling primitif misalnya cara membuat api, berlanjut ke teknologi membuat barang dari perunggu dan sampai pada penemuan cara membuat besi dan pemanfaatannya bersamaan dengan teknik bercocok tanam.

Dalam waktu yang sangat lama manusia seakan tertatih-tatih dalam upayanya mencapai kwalitas hidup yang lebih layak, karena perkembangan teknologi berjalan sangat lambat. Sampai suatu saat yang disebut Revolusi Industri.

Itu dimulai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt pada tahun 1775, dilanjutkan dengan penemuan telegraf, telepon, motor listrik, mesin diesel dan awal pesawat terbang oleh Wright bersaudara tahun 1903 dan mobil model T Ford tahun 1908.

Manusia seakan baru bangun tidur, karena dengan teknologi yang ditemukan membuat semua pekerjaan menjadi mudah dilaksanakan. Kalau dulu jarak yang jauh ditempuh ber bulan-bulan diubah menjadi bilangan hari bahkan jam. Kalau dulu suatu perintah atau informasi harus diantar oleh kurir, diubah menjadi komunikasi “real time”.

Setelah melewati Revolusi Industri, diikuti oleh zaman modern, kini bahkan dikatakan zaman supra modern atau zaman informasi. Artinya segala kegiatan manusia ditentukan oleh informasi. Siapa yang mendapat informasi lebih dulu akan unggul terhadap saingannya. Ini berlaku hampir dalam segala bidang: Pertahanan, Pemasaran, Ekonomi, Teknologi, Kesehatan, Eksploitasi Sumber Daya Alam dan sebagainya.

Begitulah majunya teknologi manusia saat ini, namun ada satu hal yang hampir tak pernah berubah sepanjang masa; kalaupun ada, kemajuannya sangat lambat. Itu adalah sifat sosial, sifat bermasyarakat, sifat ingin menolong dan berkorban untuk orang lain. Bahkan agama sekalipun boleh dikatakan tidak berhasil merubah sifat sosial masyarakat. Di daerah-daerah yang penduduknya terkenal sangat agamis, dimanapun, baik di Indonesia maupun diluar Indonesia, masyarakatnya tetap anti sosial, mementingkan diri sendiri dan tak mau berkorban buat sesamanya. Mencuri, korupsi, merampok, membunuh dan kejahatan kemanusiaan lain seakan tak bisa hapus oleh ajaran agama.

Dalam hal ini sebenarnya kemajuan kita manusia bahkan tertinggal jauh dari beberapa jenis hewan dan serangga. Dalam masyarakat semut dan lebah, perngorbanan diri dalam arti sesungguhnya (mati) untuk kelangsungan hidup kelompok adalah suatu hal yang biasa. Masyarakat mereka sangat teratur, jauh lebih tertib dari manusia.

Tak usah dulu kita bicara soal tabiat manusia secara umum, ambil saja contoh para pemimpin, dalam segala tingkatan, mulai dari Lurah keatas, wakil rakyat di DPR dsb.
Sebenarnya secara fillosofi, paling tidak syarat dasar seorang pemimpin dan penegak hukum harus memiliki sifat sosial tersebut. Bersedia berkorban demi rakyat, berjuang untuk masyarakat, bersedia meninggalkan kepentingan sendiri demi kepentingan masyarakat. Tapi adakah kita menemukan sifat itu disekitar kita? Semua dipenuhi korupsi, semua dipenuhi egoisme yang berlebihan. Tentu saja masyarakat biasa lebih parah lagi.

Tampaknya teknologi yang sangat maju memang menghasilkan kwalitas hidup yang makin baik. Hidup semakin mudah, kesehatan menjadi baik, umur relatif menjadi lebih panjang, dan menyebabkan pertambahan penduduk lebih cepat. Namun disisi lain kwalitas kejahatan kemanusiaan malah semakin menggila oleh kemajuan teknologi. Sekarang kita sudah biasa disuguhi berita tentang pembunuhan dengan perkosaan, mutilasi, sodomi misalnya atau perampokan disertai pembunuhan, atau hanya untuk mengambil sepeda motornya, seseorang dibunuh dan sebagainya. Hal yang sangat langka terjadi dimasa 40 tahun yang lalu atau sebelumnya.

Saat ini kita merasa rasa kemanusiaan mundur seribu tahun kebelakang. Sifat manusia hanya sedikit lebih baik dari sifat suku primitif yang barbar dan kanibal. Dengan pertambahan penduduk yang makin tak bisa dicegah, dimasa mendatang bisa jadi kejahatan makin meningkat, baik volume maupun kwalitasnya akibat persaingan yang semakin keras dalam kehidupan.

Kita melihat agama saja tak mampu mengontrol perilaku masyarakat. Memang dengan adanya agama, masih ada sedikit pengontrol perilaku pribadi. Negaralah yang perlu mengambil peran utama. Dan itu hanya bisa dengan kwalifikasi pemimpin dan penegak hukum yang benar-benar mau berkorban demi rakyat, berjuang untuk masyarakat, tidak egois dan menegakkan hukum dengan benar dan adil.
Kapan ya kita punya para pemimpin dan penegak hukum seperti itu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar