Sabtu, 24 April 2010

Tumapel Gempar

Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung terbunuh. Siapa pembunuhnya? Ada beberapa petinggi, satria, bahkan pemberontak yang masing-masing punya motif.

Penasihat Akuwu, Belakangka, wakil Kediri (Tumapel termasuk taklukan Kediri), selama ini bekerja sama dengan sang Akuwu dalam menghisap harta rakyat. Tapi dalam hati Belakangka, pembagian harta tidak berimbang. Sang Akuwu terlalu berkuasa dan serakah. Maka sifat serakah Belakangka pun muncul pula. Ia ingin menghabisi Sang Akuwu agar ia jadi Penguasa. Untuk itu ia merekrut seorang ahli senjata, Empu Gandring untuk menjalankan rencananya.

Empu Gandring sebagai ahli membuat senjata juga punya ambisi untuk berkuasa. Iapun menjalankan rencana Belakangka, namun dengan niat ingin berkuasa dan sekaligus akan menyingkirkan Belakangka bila rencana menghabisi sang Akuwu sudah berhasil nantinya. Ia mendekati para prajurit, para satria yang selalu berhubungan dengannya dalam pembuatan senjata.

Salah seorang satria, Kebo Ijo tertarik dengan rencana Empu Gandring. Iapun setuju mengadakan gerakan untuk menyingkirkan sang Akuwu dengan pasukannya, namun dalam hati ia juga punya niat menghabisi Belakangka dan Empu Gandring setelah menyelesaikan sang Akuwu. Kebo Ijo merasa ia lebih berhak menguasai Tumapel sebab dari garis keturunan, hanya ia yang berdarah agak biru.

Dan Ken Arok, si pemberontak yang merasa penindasan yang dilakukan Sang Akuwu Tunggul Ametung telah diluar batas. Sistim perbudakan yang telah dua ratus tahun sebelumnya dihapus oleh Sri Erlangga, raja Kahuripan kini dijalankan oleh keturunannya sendiri Kertajaya, raja Kediri. Dan Tunggul Ametung sebagai akuwunya, mengikuti cara Kediri. Ia melakukan kembali perbudakan, merampok rakyat, membunuh orang-orang yang tak disukainya, bahkan perkosaan dibiarkan terjadi tanpa hukum. Disinilah, paling tidak menurut kisah Arok-Dedes karangan Pramoedya Ananta Toer, Arok adalah satu-satunya yang punya motif lebih bersih dari yang lain.

Keributan, kerusuhan, pemberontakan dari dalam dan dari luar istana melanda Tumapel.

Dan seperti kisah-kisah keberhasilan merebut tahta yang lain, Ken Arok memanfaatkan andalan manusia modern masa kini: informasi. Dengan cerdik ia mengumpulkan informasi, apa dan siapa yang ada dalam lingkup istana, rencana-rencana rahasia masing-masing petinggi dan satria, dan menysun rencananya sendiri.

Singkat cerita, ia membunuh Tunggul Ametung. dan ia berhasil mempengaruhi para prajuritnya dan sisa prajurit Tumapel, bahwa Kebo Ijo lah yang punya motif membunuh sang Akuwu. Bahwa Kebo Ijo menyalahkan Empu Gandring, dan Empu Gandring yang terlebih dulu telah disingkirkan Ken Arok menyalahkan Blakangka tidak lagi didengar. Kebo Ijo dieksekusi, begitu pula Blakangka. Dan dengan mulus Ken Arok “diminta” oleh rakyat untuk menjadi Akuwu dan disahkan dan dilantik secara resmi oleh kaki tangannya dalam pemberontakan, yang seakan orang suci: Dang Hyang Lohgawe.

Lantas apa yang bisa dipetik dari kisah ini untuk saat ini? Sangat berguna sebagai pebanding dalam kehidupan kita bernegara. Pada waktu ini masih ada yang melakoni Belakangka, melakoni Empu Gandring, melakoni Kebo Ijo. Dan peng”Kebo Ijo”an seseorang mungkin telah, masih atau sedang berlangsung dinegeri ini. Mari kita cermati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar