Rabu, 29 Juli 2009

Jumat, Sabtu dan Minggu

Imajinasi Tentang Hari Jumat, Sabtu dan Minggu

Perselisihan politik dan agama di Timur Tengah sampai saat ini tak kunjung usai. Barangkali sampai akhir jaman, masalah yang diperselisihkan itu tak akan pernah selesai. Kota Jerusalem (sebutan masyarakat Barat) atau Darussalam (sebutan masyarakat Arab dan Islam pada mulanya), bahkan sejak abad ke IX telah menjadi rebutan. Penguasa Islam yang dipimpin para Khalifah pada saat itu dengan Raja-Raja Kristen yang tergugah oleh fatwa Paus berperang memperebutkan “tanah perdamaian” itu. Perang Salib berkali-kali selama sekitar dua abad akhirnya berhenti karena kedua pihak sangat kelelahan, tanpa ada yang menang dan tak ada yang kalah. Dan kini Pemerintahan Yahudi dengan sebutan Israel yang dibentuk Negara-Negara Barat di wilayah Palestina, tak pernah berhenti membunuh orang-orang Palestina, dan sebaliknya orang-orang Palestina juga membalasnya, namun tak pernah seimbang.
Tulisan ini bukanlah membicarakan perselisihan politik dan agama tersebut, tetapi sekadar imaginasi bagaimana sejarah membawa manusia ke perselisihan tidak rasional.
Tak dapat dipungkiri bahwa Arab dan Yahudi itu sesungguhnya bersaudara, sama-sama turunan Nabi Ibrahim. Ishak anak Ibrahim dengan Sarah, menurunkan beberapa anak, salah satunya diberi nama Israel. Dan karena keturunan Israel ini yang berkembang banyak, semua orang Yahudi akhirnya disebut bani (turunan) Israel. Demikian pula Ismael, anak Ibrahim dengan Hajar, menurunkan bani Ismael yang akhirnya menyebut dirinya bangsa Arab. Jelas bahwa Israel dan Arab adalah dua bangsa dari satu keturunan.
Dan agama Yahudi, Kristen dan Islam bila diperhatikan berasal dari ajaran yang sama. Mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Musa, ketiga agama masih sama-sama mengakui. Dengan kedatangan Nabi Isa anak Maryam, mulailah agama bercabang dua: Yahudi yang hanya mengakui kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa dan Nasrani/Kristen yang mengakui Taurat (sebagai Perjanjian Lama) dan Injil (sebagai Perjanjian Baru).
Kedatangan Nabi Muhamad menjadikan Islam seakan cabang yang ketiga. Terlepas dari penilaian masing-masing agama tentang mana kitab yang asli dan tak asli, namun tak bisa dipungkiri bahwa salah satu syarat iman dalam Islam adalah “percaya pada kitab suci: Zabur (kitab Nabi Daud), Taurat, Injil dan Qur’an.
Jelaslah bahwa baik dari segi keturunan, maupun dari segi asal muasal agama, perselisihan abadi yang ada di Timur Tengah sangat tidak rasional. Wallahualam, hanya Tuhan yang tahu!

Sekarang kita kembali pada topik tulisan ini, tentang hari-hari.
Dalam ketiga kitab suci terakhir, Taurat, Injil Bab Perjanjian Lama dan Qur’an, penulis menemukan ayat yang artinya hampir sama, dan terjemahan bebasnya kira-kira: “Tuhan menjadikan bumi dan langit dalam waktu enam hari”. Dalam Perjanjian Lama ada tambahan “dan beristirahat pada hari ke tujuh”.
Hari yang disebut dalam kitab suci bisa saja bukan hari yang berlaku di bumi. Namun penamaan hari ternyata sesuai urutan bilangan khususnya bilangan bahasa Arab: Hari ke satu Ahad (dari bahasa Arab satu=ahad, dinamakan juga Minggu=San do Mingo), hari ke dua Senin (dari bahasa Arab dua=Isnin), hari ke tiga Selasa (dari bahasa Arab tiga=tsalasa), hari ke empat Rabu (dari bahasa Arab empat=Arbaa), hari ke lima Kamis (dari bahasa Arab lima=chamsah), hari ke enam Jumat (dari bahasa Arab jamaah-solat khusus hari itu) dan hari ke tujuh Sabtu (dari bahasa Arab tujuh=sabaah). Dari semua nama hari, hanya Jumat yang tidak menunjukkan bilangan.
Mari ibaratkan kita membangun suatu gedung besar atau bertingkat.
Pada saat perletakan batu pertama biasanya dilakukan seremoni hari pertama.
Pada saat penyelesaian biasanya dilakukan “topping off ceremony”. hari sukuran.
Ketika bangunan selesai, dilakukan “building formal dedication” atau peresmian gedung atau serah terima kunci.
Nah, mari kita bandingkan dengan “seremoni” masing-masing agama:
Agama Kristiani mengajarkan khotbah tetap di gereja pada hari Ahad(Minggu/San do Mingo=hari suci), seakan-akan diilhami “perletakan batu pertama” yaitu hari pertama Tuhan “memulai” menciptakan bumi dan langit.
Agama Islam mengharuskan ummat Islam sholat berjamaah di mesjid setiap hari Jumat yang merupakan hari ke enam, seakan-akan diilhami “topping off ceremony” yaitu ketika Tuhan “menyelesaikan” pekerjaan penciptaan bumi dan langit.
Agama Yahudi (juga Advent) mengharuskan manusia beristirahat, sedapat-dapatnya di rumah saja pada hari Sabtu (Sabath) yang merupakan hari ke tujuh, seakan-akan diilhami “buiding formal dedication” yaitu ketika Tuhan “beristirahat pada hari ke tujuh”
Demikiankah makna hari-hari agama Jumat, Sabtu, dan Minggu ? Entahlah.

Sebagai catatan, imaginasi ini muncul berpuluh tahun setelah penulis mengalami suatu peristiwa unik sebagai salah satu pimpinan bidang teknik di sebuah Perusahaan Pertambangan. Waktu itu hari kerja masih enam hari seminggu, yaitu Senin sampai dengan Sabtu. Penulis menemukan seorang pembantu administrasi kantor yang mangkir pada setiap hari Sabtu. Semula penulis tidak memperhatikan masalah itu, sampai suatu saat penulis sangat memerlukan yang bersangkutan persis pada suatu hari Sabtu.
Oleh karena dia tidak datang, pada hari Seninnya penulis panggil menanyakan kenapa ia tidak masuk kerja pada Sabtu lalu, bahkan pada setiap hari Sabtu.
Yang bersangkutan menjawab, bahwa ia seorang Advent dan agamanya melarang bekerja pada hari Sabtu. Dengan sedikit dongkol penulis menjelaskan bahwa Sabtu adalah hari kerja, dan sebagai karyawan ia harus mematuhi aturan. Dijawabnya bahwa ia bersedia mengganti dengan bekerja tiap hari Minggu. Tentu saja penulis berargumen bahwa ia harus bekerja bersama dengan orang lain, tak mungkin bekerja sendirian. Argumen lain penulis sampaikan bahwa kalau ada beberapa orang yang Advent dan terus mangkir tiap hari Sabtu, pekerjaan perusahaan akan sangat terganggu. Ia menjawab: “Tuhan saja istirahat pada hari Sabtu. Walau di seluruh dunia ini hanya saya sendiri yang Advent, saya akan tetap menjalankan perintah agama”. Penulis tercenung, dari semula dongkol berubah menjadi kagum atas ketaatannya pada ajaran agamanya. Tak banyak orang seteguh dia. Akhirnya penulis menyetujui bahwa ia masuk bekerja hari Minggu dengan tugas khusus “bersih-bersih” dan tidak mengabsennya pada hari Sabtu. Lega juga rasanya tak perlu bersilang pendapat!

1 komentar:

  1. Tulisan yg bagus, humanis dan menghargai perbedaan.

    BalasHapus