Sabtu, 18 Juli 2009

Kucing Memakai Sorban

Kucing Memakai Sorban
Diceritakan kembali dan diperkaya berdasarkan cerita pendek dalam buku bacaan Sekolah Rakyat awal tahun 1950-an oleh Zainal Ilyas.

Tersebutlah kisah disuatu negeri antah-berantah, seekor kucing besar - sebut saja KB- suka memangsa tikus. Telah berminggu-minggu KB kelaparan sebab selama itu tidak ada tikus yang berani keluar liang karena ada berita KB sedang kumat. Dikalangan masyarakat tikus, KB telah terkenal ganas, sekali makan dua sampai tiga tikus dibantai, dalam sehari bisa 10 sampai 15 ekor tikus terbunuh.
KB berpikir keras, kenapa tak ada tikus muncul dalam waktu begitu lama. “Mungkinkah para tikus menjauh karena aku kejam pada mereka?” pikirnya. “Tak ada cara lain, aku harus mengubah penampilanku dan berpura-pura berkelakuan baik, agar aku bisa memikat mereka”, katanya dalam hati. Mulailah ia bersiap diri, kumis dan jenggotnya dibersihkan pakai air wangi-wangian, dan sehelai sorban dililitkannya dikepalanya. Berjalanlah ia menuju masjid terdekat. Didepan pintu masjid digantungkannya sebuah spanduk yang bertuliskan: “Haram hukumnya bagi semua makhluk untuk berkelahi atau membunuh didalam masjid” dan diberinya catatan tambahan “Kiamat sudah dekat!” Mulailah KB berzikir dan bertasbih dengan suara keras, berjam-jam sepanjang malam bahkan sampai matahari terbit: “Allahuakbar….., Subhanallah….”. Setelah beristirahat secukupnya, siangnya zikir dan tasbih dilanjutkannya bahkan dengan suara yang lebih keras, lagi dan lagi terus-terusan!
Alkisah terjadilah kegemparan dalam masyarakat tikus. Apa gerangan yang terjadi di luar sana, kenapa suara zikir dan tasbih tiada henti. Berundinglah para tikus untuk melakukan peninjauan ke pusat kedatangan suara. Seekor tikus pemberani, lincah dan agak besar akhirnya diutus untuk meninjau keadaan. Dengan mengendap-endap, sang tikus mendekati masjid. Didepan pintu ia terperanjat, “hari kiamat sudah dekat?” pikirnya. Ia mengintip kedalam dan terlihat KB memakai sorban sedang asyik berzikir dan bertasbih. Oleh karena ada tulisan bahwa dalam masjid tak boleh ada pembunuhan, ia memberanikan diri masuk masjid dan dalam jarak yang dianggapnya aman ia memberi salam: “Assalamualaikum… ”. KB tanpa berpaling berhenti sebentar berzikir dan membalas: “Mualaikum salam…”. Sang tikus penasaran, mohon minta bicara sebentar dan KB menyetujuinya, membalikkan badan dan sambil memegang tasbih menjawab pertanyaan-pertanyaan sang tikus. “Apakah benar hari akan segera kiamat, tuan?” Dijawab KB:”Tentu saja, kalau tidak masa saya dari kemarin tekun begini”. “Tapi tuan, darimana tuan tahu hal itu?” “Baru baru ini saya jalan-jalan keatas bukit sana dan melihat dari puncak bukit ada rombongan sangat besar berjalan menuju arah barat. Ketika saya tanyakan pada salah seorang dari mereka, mereka bilang mereka sedang menuju kaki sorga. Katanya mereka harus mencapai kaki sorga itu sebelum kiamat datang. Karena saya tak mungkin jalan sendirian kesana, akhirnya saya putuskan bertaubat saja” sahut KB. “Dan saya berniat jadi vegetarian, tidak akan makan daging lagi”, lanjutnya.
“Seandainya masyarakat kami mendengar berita ini, besar kemungkinan mereka ingin juga menuju kesana, tapi arahnya kemana tuan? Maukah tuan jadi penujuk jalan kami?” ujar sang tikus. “Dengan senang hati! Untuk mencegah jangan sampai ada yang menggangu kalian, semua harus berkumpul pagi-pagi besok, berbaris satu-satu, berjalan didepanku. Bila harus belok kanan saya bunyikan pluit satu kali, bila harus belok kiri saya bunyikan pluit dua kali”, jawab KB berbunga-bunga. Akhir kata, sang tikus sebagai duta menyetujui usul itu dan membahasnya dalam rapat besar masyarakat tikus. Sebagian besar tikus sepakat mencari kaki sorga agar terhindar dari azab, namun sebagian kecil masih bertanya-tanya dalam hati. Namun akhirnya semua setuju juga. “Kalau KB macam-macam kan bisa dikroyok rame-rame”, fikirnya.
Keesokan harinya berkumpullah semua tikus, tua muda besar kecil, yang tua datang bertongkat, yang buta datang dituntun. KB menyuruh sang duta mengatur barisan, tikus yang besar-besar paling depan, makin kebelakang makin kecil dan paling belakang adalah sang KB.
Berjalan berbaris satu-satu, berliku naik dan turun bukit menuju kaki sorga, begitulah tekadnya. Namun air liur KB yang ditahan dari pagi, mulai tak tertahan lagi karena lapar terus menderanya. Mulailah tanpa suara, tikus kecil didepannya dilahap satu. Taka ada yang tahu, rombongan terus jalan, terkadang pluit dibunyikan satu kali oleh KB sebagai pertanda belok kanan, kadang dibunyikan dua kali sebagai tanda belok kiri. Dan KB makin asyik. Habis melahap satu tikus kecil bukan agak kenyang, tapi malah menambah nafsu makannya. Giliran berikut dilahap, tak ada suara. Begitulah berturut-turut menjelang sore, sudah lebih dari dua puluh ekor tikus kecil yang disantap, KB masih belum kenyang. Ia berharap mendapatkan tikus yang agak besar didepannya, berdaging gempal dan pasti gurih. Namun apa dinyana. Tikus muda itu menjerit waktu dicaplok oleh KB! Suasana jadi riuh. Barisan porak poranda. Tanpa dikomando para tikus manyerbu KB. Dengan perut terasa berat KB berusaha lari, dikejar dan digigit oleh para tikus, beramai-ramai membalas kecurangan KB. Akhirnya KB tak tahan lagi, ia lari ke pinggir jurang dan melompat kebawah, dan lepaslah ia dari serangan tikus, namun didalam jurang ia hanya menunggu kematian karena cedera yang amat parah.

Catatan penulis : Berhati-hatilah, jaman sekarang ada saja orang berperilaku kucing bersorban.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar